Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #3

3

Bel pulang berbunyi dan kelas segera dipenuhi suara kursi yang digeser serta langkah kaki yang saling beradu menuju pintu.

Palupi tidak ikut berdesakan, ia lebih memilih duduk beberapa saat dan merapikan buku ke dalam tasnya dengan perlahan. Koridor di luar kelas masih ramai, suara percakapan bersahutan tanpa henti, dan beberapa siswa berjalan tergesa menuju gerbang.

Frisca keluar dari dalam kelas dengan senyum lebar seperti pagi tadi. Beberapa siswa mengelilinginya sampai ke pintu, melambaikan tangan, dan mengucapkan perpisahan seolah mereka sudah saling mengenal sejak lama. Perso menunggu tanpa terlihat terganggu, lalu berjalan berdampingan dengan Frisca begitu gadis itu sampai di sampingnya.

“Capek nggak?” tanya Perso.

“Lumayan, kak,” jawab Frisca ringan.

“Ada yang ganggu kamu?”

“Enggak ada.”

Perso mengangguk puas. Mereka berjalan melewati lorong tanpa memperhatikan siapa pun di sekitar mereka. Palupi berdiri beberapa langkah dari sana, memperhatikan sekilas sebelum akhirnya berbalik dan melanjutkan langkah menuju gerbang depan.

Di luar, halaman sekolah sudah mulai sepi. Beberapa mobil sudah terparkir rapi menunggu pemiliknya, sementara beberapa siswa memilih berjalan kaki menuju jalan utama. Palupi berdiri di dekat gerbang, menunggu. Ia tahu mobilnya akan datang, hanya saja waktunya tidak pernah pasti.

Beberapa menit berlalu sebelum sebuah mobil berhenti tepat di depannya. Kaca jendela perlahan turun. Perso duduk di dalam, dengan Frisca di sampingnya.

“Pak Bayu (sopir keluarga yang biasa mengantar jemput Palupi) hari ini mengantar Ibu Reta ke salon,” ucap Perso. “Kalau mau, kamu bisa ikut aku sama Frisca. Tapi kita mau ke mall dulu. Kalau nggak mau, kamu bisa pesan taksi sendiri.”

Sejak masuk ke sekolah ini, Rendra tak pernah memberinya uang saku. Memesan taksi untuk pulang jelas bukan pilihan yang bisa ia pilih.

Setelah beberapa saat, Palupi akhirnya mengangguk. Ia membuka pintu belakang dan masuk ke dalam.

Mobil kembali berjalan tanpa ada percakapan yang melibatkan dirinya. Perso dan Frisca berbicara sepanjang jalan, membahas hal-hal ringan yang terdengar akrab. Topik mereka berpindah dari sekolah, teman baru, hingga hal-hal kecil yang terjadi di kelas. Frisca menjawab dengan lancar, sesekali tertawa, dan Perso menanggapi dengan cara yang tidak pernah lagi diberikan pada Palupi.

Palupi duduk di kursi belakang, memandang keluar jendela tanpa ikut menoleh ke depan. Jalanan kota terlihat sibuk, lampu lalu lintas, toko-toko, dan orang-orang yang terus berlalu-lalang.

Mobil berhenti di depan sebuah pusat perbelanjaan besar. Perso turun lebih dulu, berjalan mengitari mobil, lalu membukakan pintu untuk Frisca. Keduanya berjalan berdampingan menuju pintu masuk.

Lihat selengkapnya