Malam datang tanpa suara yang berarti dari luar kamar. Pintu terbuka sebentar ketika pelayan masuk membawa nampan makan, lalu kembali tertutup tanpa ada percakapan.
Palupi membuka matanya setelah langkah kaki pelayan menjauh. Ia masih mengenakan seragam sekolah yang sama seperti saat pulang tadi. Tubuhnya terasa berat, napasnya tidak sepenuhnya teratur, dan kepalanya seperti ditekan dari dalam.
Ia tidak langsung bangun. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mendorong tubuhnya sendiri untuk duduk di tepi tempat tidur.
Tangannya menyentuh pelipis, mencoba menahan rasa pusing yang belum hilang sejak sore. Ia menunduk sebentar, lalu berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Air dingin mengalir dari shower tanpa henti, membiarkan air membilas tubuhnya.
Beberapa menit kemudian, ia berdiri di depan cermin. Rambutnya basah, wajahnya pucat, dan napasnya masih terasa berat. Ia meraih handuk kecil di samping wastafel, mengusap wajahnya perlahan, lalu menatap bayangannya sendiri tanpa mengalihkan pandangan.
'Tes'
Cairan berwarna merah mengalir dari hidungnya.
Palupi langsung menutup hidungnya dengan tangan, mencoba menghentikan aliran yang semakin jelas terlihat. Ia menyalakan keran wastafel, membungkuk, dan membiarkan air membawa warna merah itu pergi. Tangan yang basah bergerak cepat, membersihkan sisa darah yang sempat mencapai bibirnya.
Aliran darah itu perlahan berhenti setelah beberapa menit. Palupi tetap berdiri di sana sampai yakin tidak ada lagi yang keluar, lalu mengambil tisu dan mengusap wajahnya dengan gerakan yang lebih tenang.
Palupi keluar dari kamar mandi dengan mengenakan pakaian tidur yang dia ambil tanpa memilih. Rambutnya masih setengah basah saat ia berjalan ke meja belajar.
Buku-buku dikeluarkan dari tas. Ia membuka satu per satu, membaca, dan mulai menulis. Suara pena di atas kertas menjadi satu-satunya suara di dalam kamar itu. Jam di dinding bergerak perlahan, menunjukkan waktu yang terus berjalan.
Pukul sepuluh malam, ia baru menutup buku terakhir.
Makanan di atas meja sudah dingin. Nasi tidak lagi mengeluarkan uap, lauknya terlihat mengering di bagian pinggir. Palupi tetap duduk beberapa detik sebelum akhirnya menarik nampan itu lebih dekat.
Ia mulai makan tanpa terburu-buru.
Suapan pertama terasa hambar. Suapan berikutnya juga sama. Air matanya terus jatuh tanpa ada niat untuk Palupi menghapusnya. Tetesannya bercampur dengan makanan yang masuk ke dalam mulutnya, meninggalkan rasa asin yang tidak bisa ia hindari.
“Ibu…” ucap Palupi pelan. “Aku kangen.”
Tidak ada jawaban yang dapat di dengar oleh Palupi.