Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #5

5

Jam pelajaran baru saja dimulai ketika nama Palupi dipanggil dari arah depan kelas. Guru itu berdiri di samping meja, memegang daftar tugas yang sudah diperiksa satu per satu. Suasana kelas yang tadinya penuh suara perlahan mereda.

“Palupi, kenapa tugasmu tidak ada disini, apa kamu tidak mengerjakannya?"

Palupi mendongak dan menatap guru itu lalu menggeleng pelan. "Maaf bu, buku tugas saya tertinggal di rumah."

Guru itu menatap tajam Palupi, jelas tidak suka dengan sikap yang di anggapnya semena-mena hingga berani melalaikan tugas yang dia berikan. "Keluar dari kelas sekarang! Berdiri di bawah tiang bendera sampai jam ini selesai!”

Palupi mengangguk, dia berdiri dari kursinya tanpa membantah. Buku di atas meja ia tutup, lalu ia berjalan keluar kelas melewati deretan bangku yang terisi penuh. Beberapa siswa menoleh, sebagian hanya melihat sekilas, lalu kembali ke buku mereka.

Di luar, udara pagi terasa lebih panas dari yang seharusnya. Matahari sudah cukup tinggi untuk membuat halaman sekolah tidak memiliki bayangan. Palupi berjalan dengan patuh menuju tiang bendera yang berdiri di tengah lapangan, lalu berhenti di sana.

Ia berdiri tegak pada awalnya, menatap lurus ke depan. Namun ada kelas lain yang sedang mengikuti pelajaran olahraga di lapangan tempat ia kini berdiri. Suara peluit terdengar, diikuti langkah kaki yang berlari dan teriakan instruksi dari guru olahraga. Di antara keramaian itu, sosok Palupi yang berdiri sendiri di bawah tiang bendera terlihat jelas.

Beberapa siswa mulai memperhatikannya. Tatapan itu datang dari berbagai arah. Ada yang melihat sambil tetap berlari, ada pula yang berhenti sejenak sebelum kembali pada kegiatan mereka.

Palupi menundukkan kepala, membiarkan rambutnya sedikit menutupi bagian depan wajahnya agar tidak terlihat terlalu jelas. Ia merasa dirinya seperti monyet yang kini sedang dilihat oleh banyak orang.

Waktu berjalan perlahan, dan kini keringatnya mulai muncul lebih banyak di pelipisnya, lalu mengalir turun tanpa ia usap. Seragamnya mulai terasa lembap di bagian punggung. Tapi, ia mencoba tetap berdiri tegak, meskipun tubuhnya mulai terasa tidak seimbang.

Kepalanya terasa berat, pandangan di sekitarnya mulai sedikit bergoyang, membuatnya harus memejamkan mata beberapa detik sebelum membukanya kembali. Ia menarik napas panjang, mencoba menahan diri agar tetap berdiri.

Suara peluit kembali terdengar.

Palupi mengangkat wajahnya sedikit, berusaha menyesuaikan pandangan yang mulai tidak fokus. Di sisi lain lapangan, ia melihat Perso berdiri bersama teman-temannya. Mereka sedang mengikuti pelajaran olahraga, sambil mendengarkan intruksi guru.

Tatapan mereka bertemu sebentar.

Perso tak mengatakan apapun, tidak ada rasa bersalah diwajahnya, ia hanya mengalihkan pandangannya dari palupi ke arah lain dan berjalan mengikuti teman-temannya menuju lapangan sepak bola.

Lihat selengkapnya