Sesampainya di rumah, Palupi langsung masuk ke kamarnya yang ada di lantai dua. Ia melewati ruang depan tanpa berhenti, menaiki tangga, lalu berjalan menyusuri lorong panjang yang hanya diisi dengan empat pintu kamar tidur. Di rumah besar itu, ada 4 kamar di lantai dua. Kamar Palupi dan Perso ada di tengah, kamar ujung kamar ayah dan mendiang ibunya dan di sebelah kamarnya ada kamar kosong yang dulu rencananya mau di buat sebagai tempat berlatih piano untuknya namun tidak jadi dan sekarang di pakai oleh Frisca.
Palupi membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali lalu berbaring di tempat tidur sebentar. Tubuhnya masih terasa berat setelah seharian di sekolah dengan serangkaian kejadian yang telah dia alami hari ini, membuatnya tidak ingin langsung bergerak. Ia hanya berbaring, menutup mata tanpa memikirkan hal lain.
Beberapa menit kemudian, Palupi bangun lagi setelah merasa cukup. Tangannya meraih kantong plastik yang tadi diberikan Perso di sekolah. Ia berjalan mencari tumpukan kotak usang berisi hadiah yang dulu selalu diberikan oleh ayah ibu dan kakaknya. Kotak-kotak itu tersusun rapi di sudut kamar, sebagian sudah tampak lama dan tidak dibuka.
Palupi mengambil satu kotak besar setelah memindahkan isinya ke kotak lain. Ia meletakkan coklat dan minuman dingin itu ke dalam kotak. Tangannya bergerak meraih kertas note, lalu menulis 'minuman dan makanan yang dibelikan kak Perso untuk kedua kalinya setelah ibu pergi. Tapi lagi-lagi aku tidak bisa memakannya, karena aku tidak pernah menyukai susu. Sebagai gantinya, aku akan terus menyimpannya, sebagai barang berharga'
Palupi menggambar emot tersenyum dan gambar hati di belakang kertas. Setelah menulis kalimat itu, palupi membereskannya dan menyimpan kotak itu bersama kotak-kotak berharga lainnya.
Seusai membereskan semuanya, palupi pergi ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya. Air mengalir cukup lama sebelum akhirnya dimatikan, lalu ia keluar dengan pakaian santai yang lebih ringan.
Ia kembali ke tempat tidur, berbaring dan menutup matanya setelah itu.
Ia terbangun saat malam mulai turun, setelah mendengar keributan di luar kamarnya. Palupi duduk di tepi tempat tidurnya sesaat, lalu menggosok matanya dan berjalan keluar dari kamarnya.
Di luar, tepat di depan kamar Frisca, ayah, ibu tirinya, Perso dan Frisca tengah berdiri dengan sambil menyudutkan seorang pelayan kediaman.
“Apa kamu juga sudah gila? Kamu berani membawa saudaramu yang tidak waras itu ke kediamanku dan membiarkannya tidur di kamar Frisca? Apa kamu tidak lihat tubuhnya yang penuh kotoran itu menempel pada tempat tidur Frisca?” bentak Rendra dengan suara mengglegar.
“Tuan... tolong maafkan saya, saudara saya ini sedang tidak ada yang bisa merawatnya dirumah, kebetulan ibu saya juga sedang ada kepentingan lain jadi dengan terpaksa saya harus membawanya ke kediaman ini, sambil bekerja. Tuan tolong maafkan saya. Saya benar-benar tidak tau kalau saudara saya ini begitu berani tidur di kamar nona Frisca dengan tubuh yang penuh kotoran.”
Palupi mendekat ke arah mereka dan menatap kamar frisca yang memang dipenuhi kotoran manusia dimana mana bahkan di dinding dan perabotnya. Bau yang keluar dari kamar itu bahkan terasa menyengat hingga ke lorong.
Frisca berjalan mendekat ke arah Rendra, tangannya bergelayut manja. “Ayah.. jangan salahkan pelayan, mereka nggak sengaja. Lagipula pelayan ini, cuma ingin merawat saudaranya saja. Aku tidak apa-apa kok.."
Rendra masih menatap tajam pelayan itu meski Frisca mencoba menenangkan emosinya. Ia tidak mengalihkan pandangan dan tetap berdiri di tempatnya.