Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #7

7

Palupi berjalan melewati mereka tanpa mengucapkan sepatah kata pun, kedua tangannya memeluk kotak-kotak yang ia bawa dari kamarnya. Ia menuruni satu per satu anak tangga dengan hati-hati, menjaga agar kotak di tangannya tidak jatuh.

Rendra menatap punggungnya dari atas tangga. Dalam satu detik yang singkat, pandangannya sempat berubah, ada sesuatu yang muncul lalu hilang sebelum sempat bertahan lebih lama. Ia mengalihkan wajahnya, lalu memanggil pelayan lain.

“Bantu Palupi pindahkan barang-barangnya ke bawah.”

"Baik, tuan". Beberapa pelayan segera bergerak, mengikuti Palupi membawa barang-barangnya ke lantai satu.

Palupi masuk ke kamar tamu tanpa melihat sekeliling lebih dulu, lalu meletakkan kotak-kotak yang ia bawa di dekat tempat tidur. Pelayan lain mulai menata barang-barangnya di dalam kamar itu, membuka tas, menyusun pakaian, dan merapikan apa yang dianggap perlu.

“Sudah, nona,” ucap salah satu pelayan.

Palupi mengangguk ringan dan menyuruh mereka pergi usai membereskan barang-barangnya. Para pelayan itu tidak bertanya lagi, dan mereka keluar satu per satu, menutup pintu kamar dengan pelan dari luar.

Setelah pintu tertutup, Palupi berjalan menuju tempat tidur besar di tengah kamar itu. Ia duduk di tepinya dan berbaring perlahan.

Beberapa detik berlalu sebelum ia kembali membuka mata. Keningnya berkerut, tangannya bergerak menyentuh permukaan tempat tidur, lalu sedikit bergeser, mencoba mencari posisi yang nyaman. Ia memiringkan tubuh, kembali terlentang, kemudian mengubah posisi lagi.

Tapi Palupi tidak kunjung menemukan posisi yang mampu membuatnya bisa diam lebih lama. Ia menarik napas perlahan, bangun dan duduk di tepi tempat tidur. Ia menatap ke depan tanpa bergerak, mencoba memahami apa yang terasa berbeda hingga ia tak kunjung mampu terlelap.

Beberapa saat kemudian, ia baru menyadari hal yang membuatnya tak bisa tidur. Selama ini, ia tidak pernah benar-benar tidur di tempat tidur biasa.

Tempat tidur di kamarnya dirancang langsung oleh ibunya. Ukurannya, ketinggiannya, bahan yang digunakan, semua disesuaikan agar ia bisa tidur dengan nyaman. Dulu, saat pertama kali ia diminta tidur sendiri, ia sering terbangun di tengah malam. Ibunya lah yang kemudian membuat tempat tidur itu untuknya, hingga ia terbiasa dan tidak lagi kesulitan untuk tidur nyenyak.

Palupi akhirnya bangun dari tempat tidurnya, ia berjalan menuju lemari, mencari sesuatu di dalamnya. Tangannya mengambil beberapa pakaian, lima sampai enam potong, lalu membawanya ke tempat tidur.

Ia meletakkan pakaian-pakaian itu di atas kasur, menyusunnya sebagai alas sebelum kembali berbaring di atasnya. Setelah merasa pas, ia mencoba memejamkan kedua matanya lagi. Waktu berjalan cukup lama sebelum akhirnya ia bisa terlelap.

Pakaian-pakaian itu adalah pakaian yang juga di rancang khusus oleh ibunya sama seperti tempat tidur yang biasa Palupi gunakan setiap hari. Ibunya merancang 10 pakaian selama 10 tahun ini, namun hanya sisa 5 yang masih muat untuk ia pakai. Sisanya sudah lama ia buang, karena berpikir ibunya akan membuatkan baju baru lagi untuknya di masa depan. Namun pemikirannya salah, ibunya tak lagi memiliki kesempatan untuk membuatkan baju baru untuknya.

Saat pagi datang, ia sudah terbangun lebih dulu sebelum pelayan mengetuk pintu. Pelayan masuk dengan membawa sarapan dan meletakkannya di atas meja kecil di dalam kamar.

Lihat selengkapnya