Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #8

8

Setelah beberapa saat, pandangan Rendra kembali seperti semula.

“Bawa Palupi kembali ke kamarnya,” ucap Rendra pada pelayan yang kini masih menatap Palupi dengan bingung.

“Ayah!!!” teriak Palupi dengan suara pecah. “Itu barang-barang yang ibu tinggalkan khusus untukku. Ayah ingin aku mengabaikannya begitu saja?”

“Aku tidak masalah ayah menikah lagi, bahkan mengkhianati ibu, tapi itu barang-barang yang ibu tinggalkan untukku. Itu barang ibu, Ayah..”

Rendra menghela napas kasar, suaranya keluar lebih berat dibanding sebelumnya. “Palupi, apa kau lupa sopan santun yang sudah diajarkan Intan dengan susah payah kepadamu? Itu hanya beberapa potong pakaian. Ayah akan membelikanmu yang baru, jangan membuat masalah lagi. Masuk dan kembali ke kamarmu.”

“Ayah!!” Palupi menatap Rendra dengan tatapan tidak percaya.

Tidak ada jawaban yang ia harapkan datang. Yang berdiri di hadapannya memang masih orang yang sama, tetapi tidak lagi terasa seperti orang yang sama seperti 5 tahun lalu.

Apakah ini masih ayahnya yang dulu begitu mencintai ibunya, bahkan rela menukar hidupnya hanya untuk ibunya? Namun sekarang, ayahnya bahkan bisa dengan mudah melupakan keberadaan ibunya setelah ada wanita lain di sisinya.

Rendra memahami isi pikiran Palupi yang kini menatapnya dengan tatapan tidak senang.

Rendra akhirnya tidak tahan, dan spontan tersenyum mengejek ke arah Palupi. “Palupi, jangan lupa bahwa kamulah yang telah membunuh ibumu sendiri. Kamu yang membunuh istriku. Kamu yang mengambil kesempatan untuk Intan agar dia bisa hidup. Apa kamu sudah lupa itu? Dan apa ini? Kamu menyalahkan ayah karena masalah yang telah kamu buat?”

“Palupi, jika kamu waktu itu mau memberikan darah itu kepada Intan, apa menurutmu hal ini akan terjadi? Apa kamu sudah lupa bahwa semua ini terjadi juga karena kamu?” ucap Rendra dengan suara mengglegar.

Reta mendekat mencoba menenangkan Rendra. “Suami, tenangkan amarahmu. Jangan marah-marah, Palupi masih anak-anak. Wajar jika ia masih belum paham kesalahannya. Berhenti marah-marah padanya, oke? Itu tidak baik untuk jantungmu.”

Rendra tak menjawab, ia masih menatap tajam ke arah Palupi.

Palupi akhirnya menutup mulutnya, tidak ada lagi kalimat yang keluar darinya. Matanya tak lagi menunjukkan ketidakpuasan pada sikap ayahnya. Wajahnya memang masih dipenuhi air mata, namun ekspresinya kini menunjukkan keputusasaan dan penyesalan yang kuat.

Palupi tidak menjawab, tidak juga membantah lagi. Ia membiarkan pelayan mendekat dan membawanya masuk ke dalam kamar.

Setelah Palupi masuk ke dalam kamarnya, Rendra menoleh ke pria yang kini berdiri di sebelah Perso dan Frisca.

“Kamu yang tadi masuk ke kamar Palupi?” tanya Rendra dengan suara berat.

Lihat selengkapnya