Dua hari berlalu dengan cara yang sama. Palupi tidak pernah bisa tidur di tempat tidur itu. Setiap malam ia berbaring, memejamkan mata, lalu membukanya kembali tanpa waktu yang jelas.
Saat pagi hampir datang, ia sudah dalam keadaan terjaga dengan lingkaran hitam di bawah mata yang terlihat semakin jelas tiap harinya. Dan, pada hari ketiga tiba tanpa perubahan apapun.
Kepala pelayan yang datang untuk membangunkan Palupi karena mengetahui ada ujian hari ini, tertegun saat membuka pintu kamarnya. Palupi tidak berada di atas tempat tidur, ia bersandar dengan punggung menempel pada sisi tempat tidur sedangkan tangannya memeluk sebuah buku harian.
“Nona... ada apa? Apa yang terjadi? Apa anda tidak tidur?”
Kepala pelayan melangkah mendekat dengan cepat.
Palupi mendongak, matanya menatap kepala pelayan yang kini sudah berada di hadapannya.
“Butler... kamu kenapa kemari? Apa sudah siang? Aku mau pergi mandi dulu sebelum makan.”
“Nona, ini masih jam empat pagi. Belum saatnya nona sarapan. Nona tolong jawab saya, anda tidak tidur sama sekali? Kenapa anda punya lingkaran hitam setebal itu di bawah mata anda?"
Palupi menghela napas pelan. “Syukurlah kalau belum siang, aku mau mandi dulu.” Jawabnya sambil hendak berdiri.
“Nona... anda masih belum menjawab saya. Apa tidak bisa, nona berbagi beban dengan saya? Saya akan membantu nona sebisa mungkin, tolong percayai saya, saya sudah melihat nona sejak nona masih bayi. Apa itu masih belum cukup?”
Palupi menatap wajah kepala pelayan beberapa saat sebelum ia akhirnya mengangguk.
“Butler, aku tidak bisa tidur. Sudah tiga hari ini aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Aku tidak terbiasa tidur tanpa barang-barang yang dibuat ibu, tapi di sini.. tidak ada lagi barang-barang yang ibu tinggalkan untukku.”
“Nona...” jawab kepala pelayan pelan. “Kenapa nona tidak mengatakannya pada saya sejak awal?”
“Butler, meski aku mengatakannya, tidak akan ada yang berubah. Pakaian ibu sudah tidak ada. Ayah juga masih belum mau memintaku pindah kembali ke kamarku. Aku tidak ingin membebaninya dengan memintanya mengusir Frisca dari kamarku. Bagaimanapun juga Frisca sekarang adalah putri kesayangan ayah.”
“Nona, itu semua tidak benar, nona adalah putri kesayangan tuan besar. Nona juga satu-satunya putri Tuan besar. Bagaimana bisa nona berpikir seperti itu?”
Palupi tidak menjawab, ia hanya menundukkan kepalanya lebih dalam dari sebelumnya.
Kepala pelayan menarik napas panjang sebelum berkata. “Begini saja, tuan besar nanti siang akan pulang, bagaimana jika saya mengatakan masalah ini kepada tuan besar? agar nona bisa kembali ke kamar milik nona, seperti itu apa boleh?”