“Butler, aku tahu, tapi Palupi harus segera terbiasa dengan hidup yang seperti ini. Aku tidak bisa terus menjaganya, dan aku juga tidak bisa terus menuruti semua kemauannya. Satu-satunya hal yang bisa aku lakukan adalah melatih kepribadian Palupi agar tidak egois dan tahu kapan waktunya harus keras kepala.”
“Tapi, Tuan, Nona Palupi..”
Rendra melambaikan tangan. Kepala pelayan akhirnya hanya menunduk rendah dan keluar dari ruang kerja Rendra.
Namun saat ia membuka pintu, ia terkejut begitu melihat Palupi berbaring tak sadarkan diri di atas tangga.
“Nona!!” seru kepala pelayan sambil berlari ke arah Palupi.
Rendra yang mendengar teriakan kepala pelayan sontak berdiri dan keluar dari ruang belajarnya. Matanya membeku begitu melihat wajah Palupi yang pucat tak sadarkan diri di lengan kepala pelayan. Ia berlari ke arah Palupi dan merebut tubuh itu dari lengan kepala pelayan.
“Pergi! Cepat siapkan mobil!” perintah Rendra dengan panik.
“Baik, Tuan,” jawab kepala pelayan lalu buru-buru menyiapkan mobil.
Rendra menggendong tubuh Palupi yang terasa dingin di lengannya.
“Pergi dengan kecepatan tercepat, cepat!” perintah Rendra.
Rendra terus memeluk Palupi. Tangannya menepuk wajah Palupi ringan mencoba membangunkannya.
“Palupi… bangun, sayang. Ayah di sini… kamu kenapa? Jangan buat ayah khawatir, ya. Ayah mohon, cepat buka matamu.” ucap Rendra dengan suara bergetar.
Palupi membuka matanya saat hari sudah gelap. Saat matanya mengerjap, ia melihat ayah dan saudara laki-lakinya berdiri di kedua sisinya sambil menatapnya dengan mata penuh kekhawatiran.
Palupi mencoba mengerjap lagi, mencoba menyadarkan dirinya sendiri bahwa ini bukan mimpi. Mereka, ayah dan kakak laki-lakinya benar-benar terlihat seperti saat sebelum semuanya terjadi, saat sebelum ibunya pergi. Air matanya perlahan jatuh tanpa Palupi sadari.
Rendra langsung mendekat dan memegang tangan Palupi.
“Palupi… ada apa? Kenapa menangis? Apa ada yang sakit?”
“Palupi, kakak di sini. Kalau ada yang sakit, bilang sama kakak, ya… jangan menangis seperti ini.”
Bukannya diam, tangis Palupi malah pecah, "Ayah… kakak…” ucap Palupi terbata.
“Ayah di sini.”