Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #12

12

Hari berlalu dengan cara yang sama. Meskipun Palupi masih belum diizinkan untuk makan bersama di lantai satu, ia tak lagi kecewa seperti sebelum-sebelumnya karena ayahnya dan saudara laki-lakinya lah yang mengantar makanan itu untuknya. Dalam hati Palupi, itu sudah cukup, dan menurutnya hanya tinggal waktu sampai ia diizinkan kembali makan bersama mereka di lantai satu.

Sore ini, Palupi pulang dari sekolah dengan senyum lebar begitu turun dari mobilnya. Tangannya menggenggam erat lembar nilai ujiannya selama tiga hari ini.

Begitu melihat ayahnya, ibu tirinya, Perso, dan Frisca duduk bersama di ruang tamu, langkah Palupi melambat tanpa sadar.

“Ayah.. kakak..”

Rendra mengangguk. “Duduklah, ayah mau bicara denganmu.”

Palupi mengangguk, lalu duduk di sebelah Perso.

“Ujianmu, bagaimana hasilnya?”

Palupi tersenyum. “Bagus, ayah. Coba lihat nilaiku,” jawab Palupi penuh semangat sambil menyodorkan lembar nilai itu pada ayahnya.

Rendra melambaikan tangan, menolak kertas yang disodorkan Palupi. “Tidak perlu, ayah percaya padamu. Kamu adalah putri ayah, ayah tahu kualitasmu,” jawab Rendra sambil tersenyum tipis.

Tangan Palupi berhenti di udara sesaat sebelum akhirnya ia menarik kembali kertas itu perlahan. Ia melipatnya kembali tanpa berkata apa-apa.

Perso tidak mengatakan apa-apa, ia hanya mengelus rambut Palupi. “Kerja bagus, Palupi.”

Senyum Palupi akhirnya merekah kembali begitu Perso memujinya.

Rendra berdehem pelan, menarik kembali perhatian. “Palupi.. lusa Frisca ulang tahun. Karena nilainya kurang baik, ayah ingin membuatkan pesta ulang tahun untuknya agar bisa memperbaiki moodnya.”

Frisca memeluk lengan Rendra. “Ayah.. terima kasih. Maaf aku tidak bisa sepandai kak Perso juga kak Palupi. Aku.. apa ayah kecewa sama aku?”

Rendra menggeleng dan menepuk punggung tangan Frisca dengan lembut. “Ayah tidak mungkin kecewa. Kamu juga putri ayah. Nilai jelek masih bisa diperbaiki, jangan sedih, ya.”

Frisca tersenyum lebar, memeluk lengan itu lebih erat. “Ayah.. aku senang ayah menikah dengan ibu. Meski aku bukan putri kandung ayah, ayah selalu baik padaku. Terima kasih, ayah.”

Lihat selengkapnya