Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #14

14

Saat jarum jam menunjukkan pukul setengah delapan malam, Palupi akhirnya tiba di kediaman. Rumah besar itu terang benderang. Aula utama dipenuhi tamu undangan, suara obrolan dan tawa bercampur dengan alunan musik yang lembut.

Di tengah keramaian, Rendra, Perso, dan Reta berdiri mengelilingi Frisca yang tengah memejamkan mata di depan kue ulang tahunnya. Gadis itu sedang mengucapkan doa sebelum meniup lilin.

Namun sebelum doa itu selesai, suara langkah tergesa memecah suasana.

“Ayah!”

Palupi berlari ke arah Rendra, ayahnya, dengan wajah penuh air mata, dan masih mengenakan seragam sekolah yang tadi pagi ia kenakan.

"Ayahh..." teriak Palupi lagi.

Rendra yang melihat palupi masuk ke kediaman sambil menangis dengan ekspresi yang begitu menyedihkan, langsung melupakan segala sesuatu di sisinya dan berjalan cepat menuju ke arah Palupi.

Palupi memeluk Rendra erat. "Ayah, aku takut.. bagaimana ini?"

Rendra mengerutkan kening melihat kondisi Palupi terutama karena ia terus menangis, jantungnya yang sudah tidak sehat mulai berdetak tidak stabil, kepanikan masuk tanpa bisa ia cegah. Suasana pesta yang tadinya penuh kebahagiaan dan kehangatan berubah menjadi sunyi dan penuh tanda tanya.

"Siapa gadis itu?"

"Apa itu putri tuan Rendra?"

"Lalu siapa yang tengah berdiri di depan kue?Apa itu putri tirinya?"

"Palupi, katakan pada ayah... ada apa ini? Apa yang terjadi? Ayah akan menghadapi semuanya untukmu, okee? Berhenti menangis, sekarang katakan pada ayah, ya..?"

Ucap Rendra sambil menepuk punggung Palupi pelan mencoba menenangkannya.

"Ayah, lihat ini. Dokter Govi.. dia memvonisku dengan penyakit mengerikan ini. Ayah, aku benar-benar takut, aku harus bagaimana ayah? Aku benar-benar takut, aku takut ayah.."

Rendra membeku sesaat, dengan gerakan cepat ia langsung membuka amplop coklat yang di ulurkan oleh Palupi.

Perso yang melihat kepanikan Rendra dan Palupi yang juga terus menangis langsung meninggalkan Frisca dan berjalan mendekat ke arah mereka.

"Ayahh, Palupi, ada apa?"

Rendra tak menjawab, tangannya terus bergerak membuka lembar demi lembar dokumen yang di berikan Palupi. Saat tangannya membuka halaman terakhir, tubuhnya kaku seketika, jantungnya berdenyut nyeri.

Perlahan, lutut Rendra melemas hingga pria itu berlutut di depan Palupi, lalu memeluk putrinya erat.

"Palupi, putriku… maafkan Ayah. Ini salah Ayah. Seharusnya Ayah melanjutkan kebiasaan ibumu yang selalu meminta kalian menjalani pemeriksaan fisik setiap tahun. Ini salah Ayah… Ayah seharusnya tahu lebih cepat tentang penyakitmu. Palupi… Intan, lihatlah putri kita.”

Tangan Rendra gemetar saat memeluk Palupi, putri yang selama 10 tahun ini tidak pernah ia perhatikan dengan sungguh-sungguh.

Perso yang mulai panik langsung merebut dokumen itu dari tangan ayahnya. Pandangannya membeku sama seperti Rendra saat melihat hasilnya.

"Palupi, kamu." Perso mencengkram kepalanya erat, ia tidak percaya adik perempuan yang pernah sangat ia sayangi, kini memiliki penyakit mengerikan seperti itu.

Ia ikut berlutut dan memeluk Palupi mencoba mengusir rasa bersalah karena tidak pernah merawat Palupi dengan baik sama seperti Rendra setelah kematian ibunya.

Sementara itu, di sisi lain ruangan, wajah Frisca perlahan berubah tidak senang.

Malam ini seharusnya miliknya, namun kini semua perhatian justru beralih pada Palupi.

Lihat selengkapnya