Palupi berlari keluar rumah dengan napas tersengal saat lampu belakang mobil itu semakin menjauh dari halaman depan kediaman mereka. Dadanya terasa sesak sejak melihat ayahnya dibawa keluar dalam keadaan pingsan, sementara Perso masuk ke mobil dengan wajah penuh ketakutan tanpa menjawab satu pun pertanyaannya.
“Ayah!” teriaknya sambil terus mencoba mengejar mobil itu.
Namun, mobil hitam itu melaju semakin cepat meninggalkan gerbang rumah yang terbuka lebar. Palupi tetap berlari meski jaraknya sudah mustahil untuk dia kejar. Kakinya mulai melemah saat napasnya terengah.
'Bruk.'
Lututnya menghantam aspal dingin di halaman depan rumah.
Palupi menunduk sambil menahan sakit di lututnya. Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi. Mobil itu sudah menghilang dari pandangannya. “Ayah...” panggilnya lirih.
Palupi menggigit bibirnya kuat-kuat. “Ayah jangan kenapa-kenapa ya, aku mohon.”
Kepala pelayan yang sejak tadi sibuk mengurus keadaan di dalam rumah langsung menghampiri Palupi begitu melihat gadis itu terduduk di halaman.
“Nona, ayo bangun dulu,” ucapnya pelan sambil berjongkok di depan Palupi.
Palupi mengangkat wajahnya dengan mata merah dan basah.
“Butler, ayah, ayah.. dia kenapa? Kenapa ayah pingsan? Apa aku yang membuatnya sakit? Butler.. aku takut ayah kenapa-kanapa, di dunia ini aku hanya tinggal punya ayah dan kakak, aku takut ayah pergi ke tempat ibu..."
"Nona, jangan seperti ini. Ayo kita masuk dulu, ini sudah malam, tuan pasti akan baik-baik saja, tolong percaya pada saya."
Palupi langsung menggeleng sambil mencengkeram pakaian kepala pelayan.
“Butler, kamu pasti tahu sesuatu kan? Cepat katakan padaku. Ayah, dia sakit apa?”
Kepala pelayan menghela nafas panjang, "Baik akan saya ceritakan. Tapi, nona masuk dulu ya.. nona juga belum makan kan? Saya akan menyiapkannya sebentar, tolong bersihkan diri nona terlebih dulu."
Palupi menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya mengangguk lemah. Ia berjalan masuk ke rumah dengan langkah pelan. Lampu ruang pesta itu masih menyala terang, meja-meja belum sepenuhnya dibereskan, sisa makanan masih tersusun di beberapa sudut ruangan.
Begitu pintu kamarnya tertutup, Palupi langsung menuju kamar mandi. Air dingin mengalir membasahi wajahnya yang penuh air mata. Saat ia menunduk, lututnya terasa perih akibat benturan tadi.
Setelah membersihkan diri, Palupi duduk di kursi belajarnya sambil membuka kotak obat kecil di laci meja. Ia mengambil cairan antiseptik dan kapas lalu mulai membersihkan luka di lututnya perlahan.
Kulitnya memerah dan sedikit berdarah, tapi ia hanya diam sambil menempelkan kapas ke lukanya.
Dulu ia selalu menangis setiap kali terluka sedikit saja. Ia selalu mencari ayahnya atau Perso untuk mengadu. Perso biasanya akan mengejeknya karena terlalu cengeng, lalu diam-diam membawakan permen untuk menghiburnya. Sekarang bahkan rasa sakit seperti ini tidak lagi terasa penting.
Setelah beberapa saat, pintu kamarnya di ketuk, kepala pelayan masuk membawa nampan makanan.
"Nona, makan malam dulu ya.."
Palupi hanya menoleh, tak ada niat untuk memakannya.
"Saya akan menceritan semuanya pada nona, jika nona mau makan, makan malam ini."
Akhirnya palupi mengangguk, meneguk setengah gelas susu kedelai dan memakan sepotong roti.