Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #16

16

Tiga hari berlalu dengan cepat. Saat Palupi pulang sekolah dan masuk ke ruang tengah, ia menemukan kepala pelayan tengah menunggunya di ruang tamu.

“Butler, ada apa?”

“Nona, tuan besar sudah pulang. Beliau sedang menunggu nona di ruang kerja.”

“Benarkah? Ayah sudah boleh pulang dari rumah sakit?” tanya Palupi dengan ekspresi penuh semangat.

“Benar, Nona.”

Palupi mengangguk dan berjalan menuju ruang kerja Rendra di lantai satu.

“Ayah...”

“Masuk.”

Palupi membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam ruang itu perlahan. Dari jaraknya, ia masih bisa melihat dengan jelas wajah ayahnya yang pucat. Air mata Palupi jatuh tanpa bisa dicegah saat menatap wajah itu.

“Ayah, maaf. Aku...”

Rendra menghela napas panjang, lalu melambaikan tangan pelan.

“Palupi, ayah benar-benar kecewa padamu. Kamu sebegitunya ingin membuat ayah mati? Sampai membuat drama seperti itu? Apa kamu tahu seberapa besar patah hati yang ayah rasakan sekarang?”

“Ayah, aku..”

“Palupi, ayah tidak bisa terus memanjakanmu. Ayah hanya ingin kamu lebih dewasa di masa depan. Jika suatu hari ayah sudah tidak ada nanti...”

“Ayah, jangan berkata seperti itu. Aku tahu aku salah...”

“Ayah akan memberimu hukuman karena berani melakukan hal seperti itu kemarin. Ayah harap kamu bisa belajar dari hukuman yang ayah berikan.”

Palupi tidak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap ayahnya, siap menerima hukuman apa pun yang akan diberikan oleh Rendra.

“Mulai hari ini, kamarmu akan ayah berikan kepada Frisca. Kamu berutang pada Frisca karena telah merusak pesta ulang tahunnya yang pertama di kediaman ini.”

Palupi mendongak menatap ayahnya. Ada kekecewaan yang jelas di matanya, tapi melihat wajah pucat sang ayah, ia hanya bisa mengangguk pelan.

“Ayah sudah meminta pelayan memindahkan barang-barangmu ke lantai satu. Ayah tidak bisa memindahkanmu ke kamar Frisca sebelumnya. Ayah tahu kamu masih belum bisa menerima keberadaannya, jadi ayah hanya bisa melakukan ini.”

Rendra berhenti sejenak sebelum kembali melanjutkan.

“Selain itu, mulai besok pagi, ayah tidak akan membiarkanmu menggunakan sopir keluarga lagi, bahkan untuk pergi ke sekolah. Kamu sudah berani bertindak seenaknya dan meminta mereka berbohong pada ayah.”

Lihat selengkapnya