Malam itu, Palupi kembali tidak bisa tidur seperti sebelumnya. Wajahnya tampak sedikit pucat saat ia keluar dari kamar dan bersiap berangkat ke sekolah.
“Ayah... Kakak... selamat pagi,” sapa Palupi begitu langkahnya sampai di depan ruang makan.
Di sana, Rendra, Perso, ibu tirinya, dan Frisca sedang menikmati sarapan bersama.
Tangan Rendra terhenti. Ia meletakkan sendoknya begitu melihat Palupi.
“Selamat pagi,” ucap Rendra. “Kamu tidak mau menyapa ibu dan adikmu?”
Palupi menatap ayahnya sesaat. Ia menggigit bibir, ingin menolak, tetapi begitu melihat obat jantung di sisi piring ayahnya, Palupi akhirnya mengangguk pelan.
“Selamat pagi, Ibu, Frisca.”
“Selamat pagi, Palupi,” balas Reta sambil tersenyum.
“Selamat pagi, Kakak,” ucap Frisca sambil masih mengunyah makanan di mulutnya.
Perso yang duduk di sebelah Frisca segera menyentil dahi gadis itu pelan.
“Telan dulu makananmu sebelum bicara.”
Frisca menoleh ke arah Perso sambil memanyunkan bibirnya.
“Baiklah, baiklah, lanjutkan saja bicaramu. Kakak tidak akan mengatakan apa-apa lagi.”
Palupi menatap pemandangan itu sambil menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Berangkatlah lebih awal,” ucap Rendra akhirnya. “Mulai sekarang kamu juga perlu berolahraga agar tidak pingsan lagi seperti waktu itu.”
Palupi mengangguk. “Aku mengerti, Ayah. Aku akan berangkat lebih dulu.”
Rendra hanya melambaikan tangan. Namun, saat melihat punggung Palupi yang hendak melewati pintu, ia kembali bersuara.
“Ayah akan memberimu sopir pribadi lagi jika kamu sudah memperbaiki karaktermu.”
Palupi tidak mengatakan apa pun. Ia tetap melanjutkan langkah tanpa menoleh.
Setelah keluar dari gerbang kediaman, Palupi melirik jam di tangannya. Saat ini memang baru pukul enam pagi, tapi jarak dari kediaman menuju jalan utama sekitar satu kilometer.
Palupi mulai melangkahkan kakinya sedikit lebih cepat. Kediamannya berada di kawasan elite yang tidak mengizinkan kendaraan umum masuk. Jadi, untuk mendapatkan kendaraan menuju sekolah, Palupi mau tidak mau harus berjalan kaki sampai ke jalan utama.
Awalnya langkah Palupi masih cepat, tetapi perlahan mulai melambat. Ia memang tidak pernah berolahraga, terutama setelah ibunya meninggal. Selama ini ia lebih sering menghabiskan waktu di dalam kamar, bahkan sekolahnya pun dilakukan secara homeschooling.
Keringat mulai membasahi seragamnya hingga Palupi memutuskan melepas jaket tipis yang dia kenakan.
Kepalanya mulai terasa nyeri. Kakinya beberapa kali goyah hingga hampir terjatuh, tetapi Palupi tahu ia tidak boleh mengeluh.
Setelah beberapa menit berjalan, akhirnya ia tiba di jalan utama. Namun, Palupi tidak tahu bagaimana cara menghentikan kendaraan umum. Ia benar-benar tidak pernah bepergian sendirian sebelumnya.
Ia mencoba melihat sekeliling, berpikir mungkin bisa meminta bantuan seseorang untuk menghentikan kendaraan menuju sekolah, tapi ia tidak menemukan siapa pun.
Lima menit kemudian, Palupi melihat mobil Perso melintas bersama Frisca di dalamnya. Mata mereka sempat bertemu, tetapi Perso sama sekali tidak berniat memberinya tumpangan. Mobil itu tetap melaju tanpa berhenti.
Palupi hanya tersenyum tipis melihat sikap saudara laki-lakinya itu.