Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #18

18

Palupi kembali ke kelas usai makan siang di kantin sekolah. Begitu masuk, tatapan teman-teman sekelasnya terlihat berbeda, penuh cibiran dan jijik. Mungkin?

Namun, Palupi tidak peduli. Sejak awal, ia memang tidak memiliki hubungan yang baik dengan mereka. Jadi, selama mereka tidak melakukan sesuatu yang mengusiknya, ia tidak akan ambil pusing.

Saat bel pulang sekolah berbunyi, Palupi masih bingung bagaimana caranya pulang. Uangnya hanya tersisa lima puluh ribu rupiah, dan itu jelas tidak akan cukup untuk membayar ongkos taksi.

Akhirnya, dengan langkah berat, ia berjalan menuju parkiran sekolah lalu berdiri di depan mobil Perso. Ia berharap kakaknya itu mau memberinya tumpangan untuk pulang.

Palupi berdiri cukup lama di sana hingga beberapa menit kemudian Perso berjalan bersama Frisca menuju mobilnya.

Dahi Perso berkerut tanpa sadar saat melihat Palupi berdiri di depan mobilnya.

“Untuk apa kamu berdiri di depan mobil kakak?” tanya Perso saat hendak masuk ke mobil.

Palupi sedikit menunduk, jari-jarinya bertaut erat. “Kak, aku... boleh nggak, aku ikut kakak pulang hari ini? Aku..”

“Palupi, ini hukuman dari ayah untuk kamu. Baru sehari saja, kamu sudah mau nyerah? Tinggal jalan ke depan sedikit, juga. Nanti kan ada taksi lewat.”

“Kak, kalau aku nggak boleh ikut, apa aku boleh pinjam uang kakak? Uangku tinggal 50 ribu. Itu nggak cukup buat bayar ongkos taksi.”

Perso tertawa pendek dan penuh dengan cibiran, “Palupi... kamu mau main drama apa lagi? Memangnya kamu pikir kakak nggak tahu? Setiap bulan ayah selalu kasih kamu uang saku banyak, bahkan lebih banyak dari kakak. Sekarang kamu bilang, kamu nggak punya uang sepeser pun?”

“Kamu berharap kakak langsung percaya begitu saja seperti ayah kemarin? Buruan minggir! Kakak mau pulang. Besok pagi ada ujian, kakak mau belajar.”

“Kak, aku serius. Tolong... nggak banyak kok. Nanti kalau Palupi sudah punya uang, Palupi akan langsung ganti.”

“Kakak bilang minggir!”

“Kak...” ucap Palupi lagi, masih mencoba memohon.

“Frisca, cepat masuk,” ucap Perso akhirnya.

Ia berjalan menyenggol bahu Palupi hingga gadis itu hampir terjatuh.

Namun, Palupi tetap tidak mau menyingkir. Ia masih berdiri di depan mobil Perso karena benar-benar tidak tahu bagaimana cara pulang dengan uang yang tersisa.

Karena kesal, Perso akhirnya menyalakan mesin mobil dan membunyikan klakson berulang kali.

Banyak mata mulai memandang ke arah Palupi yang berdiri di depan mobil itu dan mayoritas adalah teman-teman Perso. Palupi yang tidak pernah terbiasa dengan tatapan seperti itu akhirnya menyingkir.

Mobil itu melaju meninggalkannya di parkiran bersama tatapan para siswa kelas tiga. Dengan hati berat, akhirnya Palupi berjalan menuju gerbang sekolah sambil terus menundukkan kepala.

Sepanjang jalan, pikirannya bekerja keras mencari cara agar ia bisa pulang. Hingga ketika ia sampai di gerbang sekolah, seorang siswi berjalan cepat dan menabraknya dari belakang.

“Aduh! Maaf... maaf ya. Aku lagi buru-buru, angkot langgananku bentar lagi lewat.”

Siswi itu buru-buru membantu Palupi berdiri. “Kamu nggak apa-apa, kan?”

Palupi mengangguk, “Iya, nggak apa-apa kok.”

“Ya udah, aku duluan ya.”

Lihat selengkapnya