Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #19

19

Usai tempat tidur itu dibersihkan dan ditata di kamar Palupi, gadis itu langsung berbaring di atasnya sambil memeluk selimut tebal. Wajahnya dipenuhi senyum kecil sebelum perlahan menutup mata.

Palupi baru terbangun ketika malam sudah tiba. Tidurnya sangat nyenyak hingga ia bahkan tidak mendengar suara pelayan yang mengantar makanan ke dalam kamarnya.

Palupi menguap pelan lalu meregangkan tubuhnya. Ia segera pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah sebelum duduk di kursi belajarnya, membuka tutup nampan makan malam dan mulai menyantapnya dengan tenang.

Setelah selesai, Palupi membuka buku tugasnya, dan mulai sibuk dengan buku-buku dihadapannya. Hingga, beberapa saat kemudian, ia teringat sesuatu. Tangannya bergerak mengambil ponsel dari dalam tas sekolahnya.

“Winda... ini aku, Palupi. Kamu sudah tidur?”

Tak lama kemudian, ponselnya mendapat balasan. “Belum, ada apa?”

“Winda, apa besok pagi, kamu naik angkot juga buat ke sekolah? Apa aku boleh naik bareng kamu?”

“Eh? Kamu mau naik angkot lagi?”

“Iya... mungkin untuk beberapa bulan ke depan aku harus terus naik angkot. Apa bisa bareng?”

“Ooh, oke. Nggak masalah. Besok kamu tunggu saja di depan jalan masuk kawasan Agriyatma. Aku naik angkot langganan yang kemarin kita naiki.”

“Terima kasih, Winda...”

“Eh, tapi kamu harus datang pagi, ya. Jam setengah 5 angkotnya sudah mulai jalan, mungkin sekitar jam enam sudah sampai tempatmu. Jadi usahakan datang lebih cepat supaya Mang sopir nggak perlu ngetem lama-lama.”

“Siap... aku akan pasang alarm pagi. Sekali lagi, makasih, Winda.”

Winda membalas dengan emotikon 'oke'.

Keesokan paginya, Palupi terbangun saat alarm ponselnya berbunyi tepat pukul lima pagi. Dengan gerakan cepat, ia langsung pergi ke kamar mandi, membersihkan diri, lalu mengambil seragam bersih dari lemari untuk dia kenakan hari ini. Setelah membereskan kamarnya, Palupi buru-buru memakai sepatu dan berjalan keluar.

Begitu melangkah keluar dari pintu kamar, ia melihat kepala pelayan datang dari arah luar.

“Nona, ini masih pagi. Nona mau berangkat sekarang?”

Palupi mengangguk, “Butler, aku harus naik angkot ke sekolah bersama temanku. Kalau datang terlambat, mungkin aku harus menunggu lebih lama lagi untuk angkot berikutnya.”

“Tapi, Nona, sarapan belum siap. Nona mau berangkat tanpa sarapan?”

“Hmm, nggak apa-apa. Nanti aku juga makan siang di sekolah. Butler, aku pergi dulu, ya.”

“Nona, tunggu!” Kepala pelayan segera menghentikannya. “Setidaknya bawa roti dulu buat sarapan. Tolong tunggu sebentar.”

Tanpa memberi kesempatan Palupi untuk bereaksi, kepala pelayan bergerak cepat menuju dapur. Tak lama kemudian, ia kembali dengan sambil membawa kantong plastik.

“Nona, bawa roti ini, ya. Ada botol air mineral juga di dalamnya,” ucapnya sambil menyerahkan kantong itu pada Palupi.

Palupi menatap isi kantong itu sejenak. “Kenapa ada dua?”

Lihat selengkapnya