Palupi menunggu Winda di depan gerbang sekolah saat waktu pulang tiba. Meskipun sekarang ia sudah tahu cara naik angkutan umum sendiri, ia tetap ingin pulang bersama Winda.
Begitu matanya menangkap sosok Winda, Palupi langsung melambaikan tangan.
“Winda...”
Winda sedikit tertegun melihat Palupi menunggunya. “Kamu nggak pulang? Nungguin aku?”
“Ehmm, ayo pulang bersama.”
Winda tersenyum kecil, tapi kemudian menggeleng.
“Palupi… aku nggak bisa pulang bareng kamu. Aku harus pergi kerja paruh waktu buat membiayai kebutuhan sekolahku. Aku nggak seperti kamu. Aku bisa sekolah di sini karena beasiswa, jadi untuk memenuhi kebutuhan selama sekolah, aku masih harus mengandalkan gaji dari pekerjaan paruh waktuku ini.”
Palupi menatap Winda sejenak. Tatapan prihatin di wajahnya perlahan berubah menjadi harapan.
“Winda… apa aku juga bisa ikut kerja di tempatmu? Aku juga sedang butuh uang buat ongkos ke sekolah. Apa kamu bisa bantu aku?”
Winda menatap Palupi dengan ekspresi tercengang. Mulutnya bahkan sampai terbuka.
“Palupi, kamu nggak lagi bercanda, kan? Rasanya nggak mungkin kamu sampai nggak punya uang buat ongkos sekolah. Barang-barang sekolahmu saja harganya…”
Palupi tersenyum kecil lalu membuka tasnya. “Lihat! Di tasku cuma ada 30 ribu. Uang ini aku pinjam dari pelayan di rumah.”
“Saat ini, aku sedang dihukum sama ayahku. Aku nggak boleh memakai fasilitas sopir keluarga untuk pergi ke sekolah. Ayahku juga nggak mau memberiku uang saku, dan mungkin ini akan berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Winda… apa aku bisa minta bantuanmu?”
Winda menepuk bahu Palupi ringan. “Kalau kamu serius, aku bisa bantu. Kebetulan bos tempat aku kerja memang lagi kekurangan tenaga untuk bagian dapur. Apa kamu mau?"
"Tapi nggak seperti yang kamu pikir. Tempatku kerja nggak mandang siapa kamu? Kalo kamu niat kerja di sana, ya, kamu harus kerja serius, gimana? Mau?" Lanjut Winda dengan ekspresi serius.
“Mau! Aku mau.”
“Oke... ayo kita pergi.”
Butuh waktu sekitar sepuluh menit bagi Palupi dan Winda untuk sampai ke tempat kerja itu. Tempat tersebut adalah sebuah rumah makan mewah milik pengusaha tambang yang sudah lama pensiun.
“Ayo masuk. Kita temui bosku dulu.”
Palupi mengangguk dan mengikuti Winda berjalan menyusuri restoran hingga ke bagian belakang bangunan yang terpisah dari bangunan utama.
'Tok. tok. tok.' Winda mengetuk pintu di depannya pelan.
“Siapa?" Tanya orang di dalam ruangan.