Sore itu berlalu dengan cepat. Palupi dan Winda berjalan menuju ruang kerja Ari setelah menyelesaikan pekerjaannya.
“Bos, ini aku sama Palupi.”
“Masuk!” sahut Ari.
“Kerjaannya sudah selesai?”
“Sudah, Bos,” jawab Palupi dan Winda bersamaan.
Ari mengangguk lalu menyuruh mereka mendekat. “Winda, ini gajimu untuk hari ini, 150 ribu.”
“Makasih, Bos.”
Ari lalu menatap Palupi sesaat. “Palupi, hari ini kamu memecahkan dua piring dari seratus dua puluh piring yang berhasil kamu cuci. Seperti yang tadi saya bilang, kamu harus mengganti kerugiannya.”
“Ini gajimu, 50 ribu untuk hari ini. Apa nggak masalah?”
Palupi mendongak lalu menggeleng pelan. “Ini sudah cukup, makasih, Bos,” ucap Palupi sambil menerima uang tersebut.
“Ehm...” Ari mengangguk puas. “Gajimu bisa naik kalau kerjaanmu bagus. Besok, kamu masih mau kerja lagi di sini?”
Palupi langsung mengangguk, “Masih, ini pekerjaanku. Aku akan berusaha untuk jadi lebih baik lagi ke depannya.”
“Baiklah, ini sudah hampir gelap. Kalian boleh pulang. Angkutan umum terakhir ke daerah kalian sebentar lagi lewat, kan?”
“Oke, Bos,” ucap Winda dengan senyum lebar. “Terima kasih buat gajinya!”
Winda menarik tangan Palupi untuk berjalan keluar.
“Bos, terima kasih gajinya,” tiru Palupi sambil mengikuti Winda.
Sebelum menuju jalan utama, Winda menyerahkan sebotol susu dingin pada Palupi. “Minum ini. Di dapur kebetulan ada sisa, jadi aku minta dua buat kita.”
Ia menepuk bahu Palupi pelan, “Jangan sedih. Kalau besok kerjamu bagus, gajimu juga bakal naik. Dulu waktu pertama kali kerja aku juga cuma dapat 50 ribu.”
Palupi mengangguk, menerima botol susu itu dan memasukkannya ke dalam tas.
“Kenapa? Kamu nggak mau minum? Kamu nggak haus?”
Palupi menggeleng pelan, “Aku alergi susu hewan, aku nggak pernah minum susu sapi.”
“Kenapa nggak bilang? Sini balikin! Nanti kamu malah minum lagi, kalau lupa.”
Palupi kembali menggeleng, “Nggak mau. Ini kan dari kamu. Kamu sudah memberikannya padaku, kenapa mau diminta lagi?”