Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #22

22

Keesokan siangnya, Palupi kembali bekerja seperti biasa. Namun, kepalanya tiba-tiba terasa nyeri, membuatnya tak lagi sanggup berdiri dengan benar.

'Bruk.'

Tubuh Palupi jatuh ke belakang, kepalanya membentur kursi di belakangnya. Teman-teman Winda yang akhir-akhir ini juga mulai akrab dengan Palupi langsung berteriak panik.

“Winda! Palupi pingsan!”

Winda yang mendengar teriakan mereka, seketika berlari ke arah dapur dan mencoba membangunkan Palupi dengan menepuk pelan wajahnya yang kini terlihat pucat.

“Palupi, hei! Palupi... bangun! Kamu kenapa?”

Karena tak kunjung sadar, akhirnya Palupi dibawa ke tempat istirahat milik Ari yang ada di kantornya.

Setengah jam kemudian, Palupi baru membuka matanya. Ia melihat sekeliling dan mendapati banyak wajah sedang mengawasinya dengan cemas.

Palupi mencoba bangun, namun kepalanya terasa berat. Winda yang menyadari hal itu membantu Palupi duduk perlahan, lalu menyuapinya dengan teh hangat.

“Palupi, gimana? Sekarang udah enakan? Kamu kenapa? Masih ada yang sakit?”

Palupi menggeleng pelan. “Udah nggak kok. Tadi cuma pusing, mungkin karena semalam aku begadang ngerjain tugas sekolah.”

“Palupi... kamu yakin nggak apa-apa?” tanya Ari khawatir. “Aku dengar dari Winda, kamu bahkan mimisan banyak kemarin.”

Palupi menoleh ke arah Ari. “Cuma mimisan biasa kok, Bos. Kecapekan aja, itu.”

“Kamu yakin?” tanya Ari sambil menarik kursi dan duduk di sisi Palupi dan Winda.

Palupi mengangguk percaya diri. “Saya yakin.”

Ari menatap Palupi cukup lama sebelum berkata, “Besok pagi kamu nggak usah datang kerja, kamu libur aja, ya?”

Palupi langsung mendongak panik. “Apa saya dipecat, Bos?”

“Kamu perlu istirahat, Palupi. Istirahatlah dulu selama beberapa hari.”

Palupi buru-buru menggeleng. “Saya nggak apa-apa kok, Bos. Ini cuma kecapekan aja.”

“Gini aja, kamu coba cek kesehatan dulu besok. Kalau hasilnya bagus, lusa kamu boleh kerja lagi. Gimana?”

Winda langsung mengangguk. “Palupi, aku bakal nemenin kamu cek. Nggak usah khawatir.”

Palupi menatap Winda dengan ekspresi frustrasi sebelum akhirnya mengangguk pelan. “Baik, Bos.”

Keesokan paginya, sepulang sekolah, Winda juga izin tidak bekerja. Ia menemani Palupi melakukan pemeriksaan medis di rumah sakit yang cukup terkenal di kota itu.

Sebelumnya, Palupi sudahebih dulu mencari informasi tentang rumah sakit dengan biaya yang masih bisa dijangkau menggunakan tabungannya.

Setelah keluar dari rumah sakit, Winda berjalan mendekat sambil membawa dua cup bakso panas ke arah Palupi.

“Nggak usah khawatir, semua bakal baik-baik aja. Nih, makan bakso kosongan dulu. Aku baru keluar buat beli ini. Kita makan sambil duduk di trotoar ya? Sekalian nunggu angkot.”

Palupi mengangguk ringan. “Makasih, Winda.”

Winda mengangguk santai. “Kapan hasilnya keluar?”

“Kata dokter, paling cepat dua minggu lagi.”

“Dua minggu lagi? Lama banget?”

Palupi tersenyum kecil. “Aku kan pilih yang biayanya paling murah, Win...”

Lihat selengkapnya