Usai Palupi dan Winda sampai di apotek rumah sakit itu, mereka langsung menebus resep obat yang diberikan dokter.
“Kak, maaf... ini obat buat apa ya?” tanya Winda dengan wajah yang terlihat bingung.
Apoteker itu menatap Winda sebelum menjelaskan, “Cuma obat antikejang sama pereda nyeri.”
“Kejang?” Winda langsung menoleh pada Palupi. “Palupi, emang kamu..”
Palupi menggeleng, dia juga tidak tahu apa-apa mengenai hal ini.
Setelah membayar, ponsel Palupi tiba-tiba berdering. Nama Ari muncul di layar.
“Palupi, kamu ngasih nomor bosmu ke dokter yang meriksa kamu?” tanya Ari dengan nada penuh kebingungan.
Winda yang mendengar suara Ari langsung merebut ponsel dari tangan Palupi. “Hehehe... itu aku yang isi, Bos. Ayah Palupi lagi di luar kota dan kami butuh wali buat isi formulir, jadi aku masukin nomor Bos.”
Ari mengusap pelipisnya pelan. “Kalian ini... sekarang kalian di mana? Biar bos jemput.”
“Kami lagi di rumah sakit, Bos. Baru ambil obat buat Palupi.”
“Ya sudah, jangan pulang dulu. Tunggu bos di situ. Kita sekalian periksa lanjutan buat Palupi, biar nggak perlu bolak-balik.”
“Hah? Maksudnya, Bos?”
Namun sebelum mendapat jawaban, sambungan telepon sudah terputus.
“Bos bilang apa?” tanya Palupi bingung.
Winda menggeleng. “Bos bilang kita jangan pulang dulu. Kamu harus ikut pemeriksaan lanjutan lagi buat mastiin penyakit sama perawatan kamu ke depannya.”
“Hah? Emang aku sakit apa?”
“Nggak tahu,” jawab Winda. “Yaudah, kita keluar dulu cari makan siang. Laper...”
Palupi mengangguk dan pergi keluar bersama Winda.
Setelah makan siang, mereka melihat Ari berjalan keluar dari mobilnya menuju pintu masuk rumah sakit. Winda melambaikan tangan sambil berteriak, “Bos! Tunggu dulu, kami di sini!”
Winda menoleh ke arah Palupi, dan gadis itu ikut berlari kecil menghampiri Ari.
“Kalian dari mana?” tanya Ari.
“Abis makan siang, Bos.”