Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #24

24

Dua hari berlalu dengan cepat. Palupi melakukan aktivitasnya sama seperti hari-hari sebelumnya.

Ia masih bekerja bersama Winda, meski awalnya Ari menolak. Tetapi karena Palupi mengatakan bahwa ia hanya akan bekerja sebentar agar tidak bosan di rumah, akhirnya Ari setuju.

Palupi hanya bekerja satu jam setiap harinya. Bahkan ia menolak menerima gaji dari Ari karena berniat membayar utang biaya tes lanjutan kemarin menggunakan upahnya itu.

Setelah selesai bekerja, Palupi tidak langsung pulang. Ia menunggu Winda selesai bekerja di ruang kerja milik Ari.

Palupi duduk sambil membuka buku pelajarannya, menyelesaikan soal-soal untuk persiapan ujian semester besok pagi.

Ari tidak mengganggunya, ia duduk di balik mejanya sambil mengurus nota pembukuan pemasukan dan pengeluaran restoran hari ini.

Restoran milik Ari adalah restoran kelas atas yang selalu ramai pengunjung meski bukan hari libur.

Awalnya Ari menerima Winda sebagai pekerja paruh waktu hanya karena merasa kasihan. Winda berasal dari keluarga tidak mampu, tetapi sangat cerdas. Ari dan istrinya yang belum memiliki anak pun memperlakukannya dengan baik.

Namun, ia tak menyangka Winda akan membawa anak orang lain untuk ia kasihi lagi.

Meski Palupi berasal dari keluarga berada, setelah mendengar cerita tentang kehidupan gadis itu dari Winda, Ari tahu hidup Palupi tak kalah sulit. Karena itulah, kemarin ia setuju membiayai pemeriksaan lanjutan Palupi.

Begitu selesai mengerjakan soal terakhir, pintu kantor Ari terbuka dan Winda masuk membawa sebotol jus buah.

“Palupi, kamu pasti lelah, kan? Minum ini. Om Danu bilang, dia buat jusnya kebanyakan, jadi sisanya buat kamu.”

Palupi menerima botol jus itu dan meminumnya perlahan.

“Winda, makasih.”

Winda mengangguk, lalu matanya tertuju pada lembar jawaban milik Palupi. Ia tahu Palupi pandai, dan benar saja, hampir tak ada coretan salah di lembar soal itu.

Ari berdeham pelan, mencoba menunjukkan keberadaannya di ruang kerjanya sendiri.

Ia benar-benar tak habis pikir melihat para pegawai paruh waktunya kini bertingkah begitu santai di ruangannya. Yang satu berani menggunakan ruangannya untuk belajar, yang satu bahkan tak menyadari keberadaannya, dan yang lain terang-terangan memakai bahan dapur restoran untuk membuat pegawai lain kenyang.

“Bos, sejak kapan kamu di situ?” tanya Winda seolah baru sadar Ari ada di sana.

Palupi menyenggol bahu Winda, “Dia udah ada di sana sejak kita datang, Winda.”

Winda tertawa kecil bersama Palupi. Ari hanya menggeleng pelan lalu melambaikan tangan tanpa berkata apa-apa lagi.

Setelah menghabiskan jusnya, Palupi membereskan meja di depannya dan memasukkan semua barangnya ke dalam tas.

“Ayo pulang. Angkot terakhir bentar lagi pasti lewat.”

Winda mengangguk dan berjalan menuju meja Ari untuk menerima bayaran hari ini.

Lihat selengkapnya