Sebanyak apa pun ia mencoba mempelajari materi untuk ujian berikutnya, semuanya kembali kosong saat ia berhadapan dengan lembar ujian. Hal itu terus berlanjut hingga hari ujian terakhir dilaksanakan.
Setelah ujian terakhir selesai, Palupi dipanggil ke ruang BK.
“Palupi, apa maksudnya semua ini?” tanya guru BK.
Palupi mendongak menatap guru itu lalu menggeleng pelan.
“Semua lembar ujian kamu kosong. Kamu sama sekali nggak mau jawab soal-soal ini?”
Guru itu membuka semua lembar jawaban Palupi di atas meja, membiarkan gadis itu melihatnya sekali lagi.
“Jawab ibu, kenapa kamu nggak mau jawab soal-soal ini? Kenapa kamu cuma nulis nama di sini?”
Guru itu menarik napas panjang sebelum kembali bicara. “Ibu tahu kamu siswa yang pandai. Tapi bukan berarti kamu bisa bertindak seenaknya di sekolah ini. Ayah kamu memang pemilik sekaligus investor terbesar di sekolah Adiyatma, tapi ibu juga nggak bisa kasih kamu pengecualian karena hal itu.”
Tatapan wanita itu pada Palupi mulai menajam. “Sekarang jawab ibu!”
Palupi tetap menggeleng. Ia sendiri tak tahu harus menjawab apa. Bahkan ia benar-benar tidak paham apa yang sedang terjadi pada dirinya.
“Kamu masih nggak mau kasih penjelasan ke ibu?”
Guru BK itu menghela napas kasar. “Ya sudah, kamu bisa keluar sekarang! Ibu cuma bisa kasih laporan sebenar-benarnya sama ayah kamu.”
Palupi langsung menunduk panik. “Bu, saya mohon jangan beritahu ayah saya. Saya janji, di ujian berikutnya saya nggak akan seperti ini lagi. Izinkan saya ikut remedial untuk ujian kali ini, ya, Bu. Saya janji bakal mengerjakannya dengan sungguh-sungguh.”
Guru itu menggeleng tegas. “Palupi, kamu tahu kualitas sekolah ini, kan? Di sekolah ini nggak pernah ada kesempatan untuk ujian ulang atau remedial.”
"Ibu cuma berharap ayah kamu bisa menasihati kamu supaya nggak main-main lagi soal ujian. Sekarang keluar. Ibu nggak akan kasih kamu kesempatan bicara lagi. Ibu tadi sudah kasih kesempatan, tapi kamu sendiri yang nggak mau pakai.”
“Tapi, Bu...”
“Keluar, Palupi!”
Akhirnya Palupi hanya bisa melangkah keluar dari ruang BK dengan tas di pundaknya. Ia tahu kali ini ayahnya pasti tidak akan puas lagi kepadanya.
Setelah menenangkan diri, akhirnya Palupi mendatangi Winda. Ia ingin menceritakan masalahnya, tetapi begitu melihat wajah Winda yang tampak sedang memiliki suasana hati buruk, Palupi memilih menelan masalahnya sendiri.
“Palupi, kamu datang?” tanya Winda sambil memperbaiki ekspresinya begitu melihat Palupi.
Ia tidak sadar bahwa ekspresi buruknya tadi membuat Palupi mengurungkan niat untuk bercerita.
“Winda, kamu ada masalah?” tanya Palupi sambil berjalan mendekat.
Winda menggeleng santai lalu melambaikan tangan. “Masalah kecil. Biasa, nggak usah dipeduliin. Kamu kenapa nyamperin aku?”