Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #26

26

Begitu sampai di kediaman Palupi, Winda langsung tercengang melihat rumah bak istana yang berdiri megah di hadapannya.

“Ini rumah kamu? Serius?” tanya Winda sambil geleng-geleng tak percaya.

Palupi mengangguk kecil. “Ehm... ayo masuk dulu. Kamu pasti haus, kan? Aku ambilin air dingin buat kamu sekalian istirahat dulu, ya.”

“Tunggu dulu,” potong Winda.

Tatapannya tertuju pada plang di depan gerbang kediaman yang tertulis dengan huruf besar.

“Kediaman Adiyatma?”

Winda perlahan menoleh ke arah Palupi. “Kamu... jangan-jangan kamu anak pemilik sekolah kita? Kamu dari keluarga Adiyatma yang terkenal itu?”

Palupi kembali mengangguk pelan, lalu menatap Winda dengan hati-hati. “Winda... kamu nggak marah, kan, sama aku? Aku nggak niat bohongin kamu. Aku cuma, nggak pernah jelasin, karena kamu juga nggak pernah nanya.”

Winda menatap Palupi dengan ekspresi campur aduk antara takjub, bingung, dan frustrasi. Namun sebelum ia sempat mengatakan apa pun, sebuah mobil sport berhenti tepat di samping mereka.

Kaca mobil diturunkan. Perso dan Frisca ada di dalamnya.

Winda langsung berdiri di sisi Palupi sambil menatap dua wajah yang sangat ia kenal di sekolah. Putra pemilik sekolah dan adik perempuannya.

Tatapannya sempat berhenti pada wajah Frisca. Saat itu juga ia teringat ucapan Palupi sebelumnya, bahwa ia memiliki adik tiri yang sangat disayangi ayah dan kakak laki-lakinya.

Tatapan takjub Winda perlahan berubah menjadi tatapan tidak suka. Benar saja. Keluarga kaya memang isinya tidak ada yang normal.

Perso turun dari mobil lalu berjalan mendekat ke arah Palupi. Frisca ikut turun dan berdiri di sisi laki-laki itu.

Perso tersenyum sinis menatap Palupi. “Palupi, ini teman kamu?”

Palupi mengangguk kecil, “Kak... kenalin, ini temanku. Namanya Winda.”

“Palupi, kamu cari teman yang berkualitas dikit bisa nggak sih?” ucap Perso sambil melirik penampilan Winda. “Lihat penampilannya begini. Jadi ini yang bikin kamu nggak mau jawab soal ujian semester?”

“Kak Perso.” seru Palupi, mencoba menghentikan ucapan kakaknya.

Winda tak mengatakan apa-apa, ia tau keluarga kaya memang kebanyakan seperti ini, selalu menghina orang seperti dirinya, bahkan di sekolahpun ia sering menghadapi orang semacam ini. Untung mukanya tebal, jadi dia tidak terlalu memasukkannya ke dalam hati.

“Kamu ini,” lanjut Perso, “ayah susah-susah masukin kamu ke kelas elit, eh kamu malah cari teman dari kelas lain. Palupi, bisa nggak sih kamu kayak Frisca dikit? Dia pengertian, pintar bergaul, juga patuh.”

Perso lalu mengalihkan pandangannya pada Winda. “Kamu teman Palupi?”

Winda hanya menatap Perso tanpa berniat menjawab.

Lihat selengkapnya