Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #27

27

Setelah meyakinkan Perso dengan berbagai cara, akhirnya Perso menyerah dan membiarkan Palupi beristirahat di kamarnya di lantai satu. Palupi langsung membaringkan kepalanya di atas tempat tidur tanpa mengganti seragamnya terlebih dahulu. Ia terlelap dengan cepat tanpa menunggu waktu yang lama.

Keesokan paginya adalah hari libur sekolah. Di rumah besar itu hanya ada Palupi, para pelayan, dan Rendra yang baru pulang dari kantor setelah dua hari lembur.

“Panggil Palupi ke ruang kerjaku,” ucap Rendra pada kepala pelayan saat ia masuk melewati pintu kediaman.

“Baik, Tuan.”

Tok. Tok. Tok.

“Nona…” panggil kepala pelayan sambil mengetuk pintu kamar Palupi.

Palupi membuka pintu perlahan dan menatap kepala pelayan. “Butler, ada apa?”

“Nona, Tuan Besar memanggil Anda dan meminta Anda untuk datang ke ruang kerjanya.”

Palupi mengangguk pelan. “Ehm… aku akan menemui Ayah sebentar lagi.”

Ia kembali masuk ke dalam kamar, lalu mengeluarkan amplop cokelat dari dalam ranselnya. Palupi mengambil kertas di dalamnya dan melipatnya kecil-kecil hingga bisa ia sembunyikan di telapak tangan. Setelah itu, ia berjalan menuju ruang kerja Rendra.

“Ayah…” ucap Palupi begitu melihat Rendra duduk di kursinya.

Rendra masih mengenakan kemeja kerja. Terlihat jelas ia baru saja pulang dari kantor dan langsung memanggil Palupi untuk menemuinya.

Pria itu menutup berkas di tangannya, lalu menghela napas sebelum menatap Palupi.

“Ada yang mau kamu jelaskan dulu sama Ayah sebelum Ayah bicara?”

Palupi mendongak dengan hati-hati dan menggeleng.

Rendra membuka sebuah amplop, kemudian menyebarkan isinya di atas meja agar Palupi bisa melihatnya dengan jelas.

“Apa maksudnya ini, Palupi?”

“Ayah, itu…”

“Kamu marah dengan keputusan Ayah yang menghukummu selama beberapa bulan ini sampai nggak mau ngerjain soal ujian semester?”

Palupi menggeleng cepat. “Bukan begitu, Yah, tapi..”

“Tapi apa? Atau kamu masih marah karena ayah ngerayain ulang tahun Frisca dan kasih kamar kamu ke Frisca?”

Palupi terdiam.

“Palupi, bisa kamu bersikap sedikit dewasa? Ayah melakukan semua ini juga buat kamu, bukan buat siapa-siapa. Ayah sudah janji bakal ngerayain ulang tahun kamu tahun depan, kan? Kenapa kamu masih perhitungan sama Frisca?”

“Ayah, aku nggak iri sama Frisca. Aku cuma..”

“Cuma apa lagi? Cuma mau buat ayah sakit lagi? Kamu masih belum puas buat ayah seperti terakhir kali? Kamu masih mau buat ayah kayak gitu lagi?”

“Palupi, Ayah tahu kamu masih marah sama Ayah. Tapi Ayah melakukan semua ini juga buat kamu, buat masa depanmu. Kalau Ayah nggak ada nanti, Perso, Ibu Reta, dan Frisca yang bakal nemenin kamu. Ayah tahu kamu masih butuh ibu.”

“Ayah…” potong Palupi dengan suara terisak. “Jangan bilang kayak gitu. Aku nggak mau buat Ayah seperti itu lagi. Ayah harus hidup lama. Aku nggak mau kehilangan Ayah.”

Lihat selengkapnya