Sepulang sekolah, Palupi buru-buru membereskan mejanya. Ia berjalan keluar kelas begitu guru yang mengajar meninggalkan ruangan.
Palupi keluar lewat pintu belakang sekolah, bukan gerbang depan. Ia tahu sopirnya sudah menunggu di depan, tapi ia ingin memastikan sesuatu lebih dulu dan tidak ingin ayahnya mengetahui rencananya sebelum semuanya jelas.
Palupi berjalan menuju jalan besar untuk mencari angkutan umum menuju rumah sakit tempat ia memeriksakan penyakitnya kemarin. Sesampainya di sana, Palupi tidak langsung masuk. Ia justru berdiri di depan pintu masuk rumah sakit sambil menunggu.
Ia tahu, jika masuk untuk berkonsultasi langsung dengan dokter, pasti akan ada biaya administrasi yang harus dibayar, sedangkan saat ini ia tidak memiliki uang sama sekali. Karena itu, Ia hanya bisa berkonsultasi secara tidak langsung dengan dokter yang memeriksanya kemarin. Untung saja, tak perlu waktu lama hingga dokter tersebut datang dan keluar dari mobilnya.
Palupi berlari ke arahnya dengan langkah terburu-buru.
"Dokter", panggil Palupi.
Dokter Yuvi yang memeriksa Palupi sontak menghentikan langkahnya dan menengok ke arah Palupi. Ia mencoba mengingat wajah gadis yang kini memanggilnya.
“Kamu?”
Palupi membenarkan poninya, lalu mendongak. “Dokter, saya Palupi, yang pernah dokter periksa dua minggu lalu, yang..”
“Ahh… aku ingat. Kamu gadis yang waktu itu ditemani teman sekelasmu, kan?”
Palupi mengangguk cepat. “Benar, Bu.”
“Ada apa?” tanya Dokter Yuvi sambil menatapnya.
“Bu… saya mau tanya sesuatu. Apa dokter bisa bantu jawab pertanyaan saya? Nggak banyak kok, cuma soal penyakit saya. Nggak akan lama, saya janji.”
Dokter itu tersenyum tipis. “Boleh. Ke ruang saya saja, ya.”
“Tapi saya nggak mau konsultasi, Dok. Cuma mau tanya aja…”
Dokter Yuvi mengangguk mengerti. “Saya paham. Nggak apa-apa, ke ruang saya dulu aja, ya. Kamu juga pasti haus, kan? Baru pulang sekolah?”
Dokter itu tersenyum tipis sebelum melanjutkan. “Gratis kok. Kebetulan jadwal kerja saya juga baru mulai setengah jam lagi.”
Palupi tersenyum malu, seolah pikirannya baru saja ditebak. Akhirnya ia mengangguk dan mengikuti dokter itu menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di sana, Dokter Yuvi memberikan sebotol air mineral pada Palupi. “Nih, minum dulu.”
Palupi mengangguk dan menerima botol itu lalu meneguknya beberapa teguk.
“Makasih, Dok.”
“Ehmm.. nah sekarang, kamu bisa nanya, mau nanya apa? Biar dokter jawab?”
Palupi membenarkan posisi duduknya sebelum menatap dokter di hadapannya.
“Bu dokter, apa mungkin ada kesalahan dalam hasil pemeriksaanku terakhir kali? Karena terakhir kali aku periksa, aku juga dinyatakan sakit kanker. Tapi setelah itu, dokter yang memeriksaku mengabari Ayahku, dia bilang aku sebenarnya nggak sakit.”