Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #30

30

Keesokan paginya, saat rumah masih sepi dan hanya ada beberapa pelayan yang keluar-masuk pintu kediaman, Palupi berdiri kaku di lantai satu. Matanya menatap Frisca yang tengah tersenyum ke arahnya sambil membiarkan anjing peliharaannya, yang baru diadopsi 2 minggu lalu, menggigit lembar foto miliknya.

Lembar foto satu-satunya yang tersisa yang palupi miliki bersama ibu, ayah dan saudaranya. Itu satu-satunya foto yang ia miliki!

Amarah yang tak pernah muncul di mata Palupi kini muncul dan meluap-luap hingga ingin meratakan segala sesuatu di sisinya. Palupi berlari naik ke lantai dua dan menendang anjing itu hingga tubuh mungilnya tersungkur ke belakang. Pandangannya jatuh pada foto di hadapannya yang kini penuh air liur dan telah rusak tak berbentuk.

“Palupi, maaf. Apa itu barang penting buat kamu?” tanya Frisca. “Anjingku nggak tahu kalau itu barang penting. Tapi kamu juga nggak seharusnya menyerang anjingku, dong! Itu hadiah dari Ayah untukku sebagai kompensasi karena kamu merusak ulang tahunku bulan lalu.”

“Kalau anjingku mati, kamu mau tanggung jawab?”

Palupi tidak menjawab, ia hanya mengumpulkan sobekan foto itu dan membersihkannya dengan pakaiannya sendiri.

“Palupi! Kamu tuli, ya? Kamu nggak mau minta maaf karena sudah menendang anjingku?”

Palupi yang sudah hilang kesabaran akhirnya bangkit dan menatap Frisca. "Kamu bilang minta maaf? Kamu nyuruh anjing kamu buat ngerusak album keluargaku, dan kamu minta aku minta maaf sama anjing kamu?"

Frisca mundur tanpa sadar saat melihat mata Palupi yang memerah. “Tapi anjingku kan nggak tahu kalau itu foto penting.”

“Aku juga nggak tau tuh kalo anjing kamu nggak boleh di tendang! Jadi wajar kan kalo aku nendang dia lagi?" Ucap Palupi dengan nada tenang.

Frisca entah mengapa merasa panik saat melihat Palupi yang kini jadi seperti ini. Ia terus mundur mencoba menjauh dari Palupi yang kini menatapnya tajam.

Hingga..

"Aaakkkh.." Frisca terjatuh berguling menuruni tangga hingga kepalanya membentur pinggiran tangga.

Palupi sontak terkejut saat melihat Frisca jatuh hanya karena dirinya yang meminta pertanggungjawabannya.

Teriakan Frisca berhasil membangunkan semua orang di kediaman itu.

Reta dan Rendra yang keluar lebih dulu saat mendengar teriakan tersebut. Keduanya menatap Palupi yang kini berdiri tak bergerak di atas tangga. Reta tak mengatakan apapun, ia langsung turun ke bawah dan membantu Frisca bangun.

"Frisca, kamu nggak apa-apa sayang? Ada yang sakit? kamu kenapa bisa begini?"

Rendra ikut turun melewati Palupi menuju Frisca. Perso yang akhirnya terbangun juga menatap Palupi dengan ekspresi rumit lalu turun ke lantai satu dan menenangkan Frisca.

"Ibu, kepalaku sakit, ada darah di pelipisku, aku takut darah."

"Frisca jangan menangis," Ucap Rendra mencoba menenangkan Frisca. "Lukamu nggak dalam kok. Tutup matamu ya, jangan liat darahnya. Sebentar lagi bakal Ayah hilangin, oke.."

Lihat selengkapnya