Rendra buru-buru menutup pintu ruang kerjanya dan mengambil obat jantung di laci meja kerja miliknya.
Usai menelan obat-obatan itu, Rendra berlutut di samping meja kerjanya.
“Intan... jantungku semakin parah. Aku nggak yakin bisa hidup lama seperti kemauanmu. Maaf aku buat putri kita menangis seperti ini hari ini. Tapi ini semua demi dia. Aku nggak bisa menjaga dia terus, aku juga nggak bisa mengandalkan Perso buat menjaga putri kita. Aku cuma bisa ngasih sosok yang mirip kamu buat menjaga Palupi di masa depan. Kamu nggak bakal nyalahin aku karena melakukan hal ini ke Palupi, kan?”
Palupi kembali ke kamarnya sambil menggenggam sobekan foto itu di tangannya.
Perlahan, ia mengambil kertas kosong dan lem, lalu mulai merangkainya di atas kertas itu. Palupi meniup kertas hingga lemnya kering, lalu memasukkannya ke dalam laci dengan hati-hati.
Tiga hari berlalu dengan cepat. Palupi hanya menghabiskan waktunya di dalam kamar sesuai keinginan Rendra. Selama itu, Palupi hanya dipanggil Rendra sekali untuk meminta maaf pada Frisca.
Namun meskipun hanya berada di dalam kamar, Palupi anehnya merasa tubuhnya terus dilanda kelelahan yang tak berkesudahan. Jadi, selain berlatih soal di meja belajar, Palupi hanya menghabiskan waktunya di atas tempat tidur, berharap rasa lelah itu segera menghilang.
Meski begitu, rasa lelah itu tak kunjung pergi.
Saat hari keempat liburan, pamannya, kakak dari Intan, ibunya, datang berkunjung ke rumah Adiyatma. Ia menetap di luar negeri setelah Intan meninggal dan baru kali ini kembali ke negara asalnya.
Rendra menyambutnya di ruang tengah.
“Kakak ipar, aku tak berniat lama di negara ini. Aku hanya merindukan Kak Intan, jadi aku mungkin hanya akan berada di negara ini selama beberapa hari.”
Rendra mengangguk. “Aku mengerti. Apa kau akan menginap di rumahku atau...?”
“Aku mau tinggal di kediaman orang tuaku dan Kak Intan. Lagipula, kenangan kami ada banyak di sana. Kakak juga pasti akan memarahiku jika aku tidak menengok kediaman lama kami.”
“Ehm...” Rendra mengangguk. “Aku sudah mengirim orang untuk membersihkan kediaman itu selama ini, jadi kau bisa langsung menempatinya tanpa perlu khawatir hal lain.”
Hafyd balas mengangguk. Ia mengambil sebotol air mineral di meja dan meneguknya hingga setengah sebelum pandangannya jatuh pada Frisca yang keluar dari kamarnya.
“Eh, Palupi, kamu sudah bangun?” tanya Hafyd sambil meletakkan botolnya di meja.
“Cepat turun, sambut Paman,” ucapnya sambil berdiri.
Frisca berdiri kaku, tak berniat turun, lalu menatap Rendra.
Rendra berdehem pelan. Belum sempat ia menjelaskan, pintu rumah sudah terbuka. Reta masuk dengan membawa kantong belanja di tangannya.
Hafyd tercengang begitu melihat wajah Reta. Ia menoleh menatap Rendra dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Rendra, siapa dia?”
Rendra berdiri dan meminta Reta mendekat ke arahnya.
“Hafyd, perkenalkan. Dia Reta, istri baruku.”