Hafyd menghapus air mata di wajahnya. “Kalau kamu ikut Paman ke luar negeri, kamu mau? Kita tinggalin mereka semua, ya? Mau?”
Palupi menggeleng. “Nggak mau, Paman. Aku cuma punya Ayah sama Kakak. Aku nggak mau ninggalin mereka. Ibu udah ninggalin aku, kalau sampai...”
“Ehm... Paman ngerti,” potong Hafyd. “Mau ikut Paman berlibur di rumah lama? Nanti soal pindah ke luar negeri, kamu pikir pelan-pelan aja, ya. Nggak usah buru-buru. Kamu lagi libur semester, kan?”
Palupi melepas pelukannya, menatap Hafyd sesaat lalu menjawab, “Apa Ayah bakal kasih izin aku? Aku mau ambil foto Ibu. Di sana pasti masih ada foto Ibu, kan? Foto Ibu yang aku punya kemarin disobek sama Ayah. Aku mau foto Ibu lagi, Paman. Aku lupa muka Ibu kalau lama nggak lihat.”
Hafyd mengangguk. Ia tak menganggap omongan Palupi serius. Ia hanya berpikir bahwa Palupi sedang merindukan Intan.
“Di sana seharusnya masih ada foto-foto Intan. Kamu bisa ambil semaumu. Sekarang kamu siap-siap, ya. Paman yang urus soal izin Ayah kamu.”
Palupi mengangguk. “Paman tunggu dulu sebentar, ya.”
“Ehm.”
Hafyd berjalan keluar kamar setelah melihat Palupi mulai memasukkan barang-barangnya ke dalam koper miliknya.
Palupi mengambil beberapa baju dari dalam lemarinya dan beberapa hal penting menurutnya. Saat ia hendak keluar, tatapannya jatuh pada kotak berisi buku harian dan barang-barang penting miliknya. Ia berbalik dan membawa kotak itu. Entah mengapa, dia merasa perlu membawa kotak itu.
“Paman... aku sudah siap,” ucap Palupi begitu tiba di ruang tamu tempat semua orang di rumah itu berkumpul.
Palupi menunduk, tak berani menatap mata Rendra yang kini sedang menatapnya.
“Aku akan membawa Palupi berlibur selama liburan ini ke rumah lama. Jika dia berubah pikiran dan mau mengikutiku ke luar negeri, jangan salahkan dia. Kamu sebagai ayahnya sudah lalai, Rendra.”
Rendra tak mendengarkan. Ia terus menatap Palupi. Alisnya berkerut tanpa sadar begitu melihat tubuh Palupi yang dirasanya semakin kurus.
Ia berjalan mendekat, menunduk sedikit agar wajahnya setara dengan wajah Palupi.
“Palupi,” ucap Rendra sambil menahan bahu gadis itu.
“Ayah... aku mau ke rumah lama Ibu. Aku cuma mau ambil foto Ibu dulu. Nanti setelah aku bosan di sana, aku akan pulang. Ayah jangan marah, ya.”
“Lihat Ayah.”
Palupi mendongak menatap Rendra.
“Berliburlah bersama Paman beberapa hari ke depan. Jangan lupa makan yang banyak. Maaf Ayah membuatmu menangis beberapa hari lalu. Setelah selesai berlibur, Ayah akan mengembalikan kamarmu, ya.”
Palupi tersenyum menatap Rendra.
“Ayah, aku mengerti. Aku akan segera pulang saat sudah bosan dengan Paman,” ucapnya dengan nada ceria.
Rendra mengusap rambut Palupi pelan.
“Ayah nggak akan paksa kamu buat nerima Ibu Reta sebagai ibu baru kamu secara terburu-buru. Ayah tahu kamu butuh waktu, jadi coba pelan-pelan saja, ya. Di masa depan, Ayah harap kamu bisa memiliki hubungan yang baik dengan mereka.”
Senyum di wajah Palupi lenyap seketika. Ia menunduk lebih dalam.
“Rendra, hentikan bicaramu. Mau Palupi menerima wanita itu sebagai ibunya atau tidak, itu bukan urusanmu.”
Rendra tak menjawab. Ia hanya menatap mata Palupi yang mulai meredup.