Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #33

33

Palupi tidak sadar bahwa dirinya sedang dicurigai oleh Hafyd. Wajahnya terus tersenyum saat ia mulai mengumpulkan bunga-bunga di depannya.

Sedangkan di dalam rumah itu, Hafyd mulai membongkar isi kotak dan koper milik Palupi. Dia tak terlalu berharap menemukan sesuatu yang penting, karena bagaimanapun Palupi hanya membawa barang-barang yang mungkin akan ia pakai saat berlibur di rumah lama ini.

Namun ia tak menyangka, saat tangannya membuka kotak, ia menyentuh kertas laporan rumah sakit yang sudah terlipat menjadi bulatan.

Hafyd membukanya perlahan. Matanya membelalak tak percaya saat melihat hasil pemeriksaan di hadapannya. Ia berlari keluar dan menarik gadis itu agar berdiri menatapnya.

“Palupi, jawab Paman! Apa artinya ini?”

Palupi yang bangun mendadak merasa pusing seketika, tapi tatapannya langsung fokus pada laporan medis miliknya yang dipegang Hafyd.

Dengan panik, ia langsung meraih laporan medis di tangan itu, namun Hafyd menaikkan lembar itu agar tidak bisa diraih tangan Palupi.

“Paman... itu cuma mainanku, bukan apa-apa. Itu nggak benar. Aku cuma mau cari perhatian ke Ayah, makanya aku coba cetak itu.”

“Palupi! Jawab Paman jujur! Ada stempel rumah sakit di sini. Paman tahu mana yang laporan asli dan mana yang mainan.”

“Paman, itu foto editan. Capnya asli, tapi laporannya palsu. Paman nggak usah khawatir, ya. Aku nggak apa-apa.”

“Palupi!”

Bentak Hafyd yang membuat Palupi langsung tersentak mundur. Entah karena terkejut atau apa, darah mengalir dari hidung Palupi.

“Ah.. Paman.”

Hafyd tertegun melihat Palupi yang tiba-tiba mengalami mimisan.

“Palupi, kamu?”

Ia buru-buru masuk mengambil tisu dengan langkah tergesa dan membantu Palupi membersihkan darah di hidungnya.

Begitu darah di hidungnya berhenti, Palupi berkata, “Paman.. jangan bilang Ayah, ya. Aku nggak mau Ayah tahu.”

“Palupi, laporan itu benar?”

Palupi tahu ia tak bisa menyembunyikan kebenaran laporan itu dari Hafyd, jadi ia mengangguk.

“Kamu menyembunyikannya selama ini dari ayahmu?”

“Paman, Ayah punya sakit jantung. Aku nggak mau membebani Ayah. Terakhir kali aku cek kesehatan, Ayah panik dan jantungnya drop pas tahu itu cuma laporan palsu.”

“Maksud kamu?”

“Kalau Ayah tahu laporan medis terakhir kali asli, pasti Ayah bakal syok. Paman.. jantung Ayah sudah sangat buruk. Dia nggak bisa dapat kabar kayak gini. Aku nggak mau Ayah khawatir.”

Lihat selengkapnya