Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #34

34

Setelah setengah jam berlalu dalam kesunyian, akhirnya Hafyd mengajak Palupi pulang. Palupi mengangguk dan hendak bangun mengikuti Hafyd. Namun, belum sempat ia melangkah.

Buugh!!

Palupi jatuh ke belakang. Kepalanya membentur tanah basah di bawah tubuhnya terlebih dahulu.

“Palupi!!” panggil Hafyd sambil mencoba membangunkan gadis itu.

Wajah Palupi terlihat pucat dan karena tak kunjung bangun, akhirnya Hafyd membawa Palupi ke rumah sakit yang ada di kota itu.

“Bagaimana keadaan Palupi?” tanya Hafyd saat dokter yang memeriksa Palupi keluar dari ruang rawat.

“Kenapa Bapak baru bawa anak itu ke rumah sakit sekarang?”

“Maksudnya, Dok?”

Dokter itu menggeleng.

“Kamu ikut ke ruangan saya dulu.”

Hafyd mengangguk dan mengikuti dokter itu ke ruangan dokter tersebut.

“Bapak, ini siapanya pasien, ya?”

“Saya pamannya, Dok. Ayahnya lagi ada keperluan, jadi saya yang bawa dia ke sini.”

“Sudah tahu pasti, kan, kalau pasien kena kanker? Harusnya sudah tahu dong, ya?”

Hafyd mengangguk. “Iya, Dok. Saya sudah tahu.”

Dokter itu menghela napas dengan kasar. “Kenapa baru dibawa hari ini? Kemarin-kemarin kalian itu ngapain aja? Pasien sekarang sudah kayak gitu, kita sebagai dokter bisa apa?”

“Saya baru tahu hari ini, Dok,” ucap Hafyd dengan nada penyesalan. “Anaknya nyembunyiin penyakitnya dari keluarganya. Apa ada cara buat kondisinya supaya tetap stabil untuk beberapa hari ke depan? Saya berniat bawa anak itu ke luar negeri. Saya sudah carikan dokter yang biasa menangani kanker buat dia.”

Dokter itu tersenyum melihat Hafyd. “Dia anak broken home atau apa? Sesibuk apa orang tuanya sampai nggak sadar kalau dia sakit?”

Ucap dokter itu dengan emosi sampai melupakan kode etik profesinya.

“Sepinter apa anak SMA buat bisa menyembunyikan penyakit? Harusnya gejalanya sudah bisa dicurigai sejak lama, kan? Sekarang kamu sebagai pamannya mau bawa dia ke luar negeri? Telat!! Kamu mau buat dia kejang di jalan? Kamu mau lihat dia langsung mati?”

“Dok... jadi?” ucap Hafyd gugup. “Saya harus gimana? Apa dia masih bisa sembuh? Saya akan bayar berapa pun asal dia bisa selamat. Saya mohon, Dok, kasih dia obat terbaik. Saya mau anak itu sehat lagi.”

Air mata Hafyd yang sudah lama tertahan akhirnya jatuh.

“Dok, saya mohon, Dok. Dia anak perempuan satu-satunya kakak saya. Dia juga masih muda, Dok. Masa depannya masih cerah. Saya mohon, Dok. Saya mau bayar berapa pun asal anak itu bisa sehat kayak dulu lagi.”

Melihat Hafyd, seorang pria dewasa yang menangis karena keponakannya, akhirnya dokter itu menghela napas. Ia menurunkan suaranya agar terdengar lebih lembut.

“Untuk membuat gadis itu sehat seperti sebelumnya, itu sangat tidak mungkin.”

Lihat selengkapnya