Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #35

35

Yuli datang hampir tengah malam membawa kotak yang diinginkan Palupi ke rumah sakit itu.

“Sayang, kamu sudah berusaha keras hari ini. Kamu pasti belum istirahat, kan? Maaf aku merepotkanmu, minta datang jauh-jauh kemari menyusulku ke sini.”

“Omong kosong,” ucap Yuli sambil memeluk Hafyd. “Kamu suamiku, Palupi juga keponakanku. Aku juga menganggapnya penting dalam hidupku. Kamu yang pasti lelah, kan? Lihat lingkar hitam di bawah matamu. Sekarang pulanglah, aku akan menjaga Palupi malam ini. Kakak iparmu mana? Dia belum datang?”

Hafyd menggeleng lemah.

“Aku sudah memintanya datang, tapi entah dia mendengarku atau tidak. Dia sedang sibuk dengan istri dan anak barunya itu.”

Yuli mengangguk. Ia mengalihkan tatapannya pada Palupi, lalu berjalan ke arahnya.

“Palupi sayang, maaf ya... Paman sama Bibi malah ninggalin kamu selama ini,” ucap Yuli sambil menghapus air matanya.

Keesokan paginya, Palupi bangun dan menatap Yuli serta Hafyd yang duduk tak jauh dari sisinya.

“Bibi Yuli?”

Yuli tersenyum dan berjalan mendekat. “Ehm... Bibi datang. Apa kamu senang ketemu Bibi?”

Palupi tersenyum dan duduk perlahan. “Tentu senang. Bibi kan, Bibi... itu...”

“Hem?” tanya Yuli menatap Palupi.

Wajah Palupi berubah seketika. Ia menggigit bibir bawahnya erat-erat. “Bibi...”

Yuli tersenyum. “Nggak apa-apa. Kamu lupa, kan? It's okay, Bibi ngerti. Yang penting kamu masih ingat wajah Bibi.”

Ucap Yuli sambil memeluk gadis itu dan menepuk punggungnya ringan. Hafyd tak mengatakan apa pun. Ia hanya menatap Palupi dengan ekspresi rumit.

Setelah Palupi sarapan pagi dengan disuapi oleh Yuli, ia akhirnya terlihat sedikit lebih baik.

“Paman, kotak yang aku minta mana? Aku mau lihat dulu.”

Hafyd mengambil kotak di lemari kecil di sebelah tempat tidur Palupi lalu menyerahkannya pada Palupi.

“Ini. Paman belum buka-buka lagi. Setelah nemuin hasil pemeriksaanmu kemarin, kamu nggak perlu khawatir.”

Palupi tersenyum. “Kenapa khawatir? Paman juga bakal lihat sebentar lagi,” ucap Palupi sambil membuka kotak hadiah miliknya.

Palupi membongkar tumpukan barang-barang miliknya dan meraih kertas putih yang ia letakkan paling bawah.

Palupi membukanya perlahan dan setelah memeriksanya sekilas, ia menyerahkannya pada Hafyd.

“Paman... bantu aku urus ini, ya. Aku beneran nggak tahu prosedurnya.”

Hafyd mengerutkan kening lalu membaca kertas putih yang diberikan Palupi padanya.

Hafyd mundur satu langkah tanpa ia sadari.

Lihat selengkapnya