Setelah beberapa menit, akhirnya tubuh Palupi diam. Hafyd buru-buru datang begitu mendapat panggilan dari Yuli.
"Bagaimana?" tanya Hafyd dengan napas memburu. Jelas ia berlari cepat untuk sampai ke sini.
Yuli menggeleng. Ia tidak tahu harus berkata apa. Tubuhnya masih gemetar karena rasa takut.
Setelah memastikan tubuh Palupi sudah aman, salah satu dokter menghampiri mereka.
Hafyd bergerak mendekat. "Bagaimana kondisi keponakan saya, Dok?"
Dokter itu menggeleng. "Kondisinya sudah di ambang batas. Kami hanya bisa mengurangi rasa sakit yang ia rasakan untuk sementara. Kankernya tumbuh lebih cepat dari yang telah kami perkirakan sebelumnya."
Hafyd menoleh menatap Palupi yang kini tubuhnya dipenuhi selang medis.
"Kapan dia akan sadar lagi?"
"Kami nggak bisa memastikan. Jika tubuhnya masih mau merespons obat yang kami berikan, mungkin besok pagi dia akan bangun. Namun, jika tubuhnya sudah tidak mau merespons, kalian harus bersiap."
"Apa tidak ada cara lain? Saya mohon, Dok. Saya akan bayar berapa pun asal dia bisa bangun. Saya mohon, Dok."
"Tolong tunggu hasilnya besok pagi. Kami masih harus terus memantaunya untuk mengambil keputusan."
"Untuk sementara, pasien akan kami pindahkan ke ruang ICU. Kalian tidak bisa mendekatinya untuk beberapa saat."
Yuli menahan tubuh Hafyd yang limbung ke belakang. "Hafyd... tolong tenangkan dirimu. Masih ada kesempatan. Kamu harus percaya sama Palupi."
Hafyd menggeleng lemah. "Yuli... Palupi itu..." Hafyd menghentikan bicaranya. Ia terduduk di kursi dan menutupi wajahnya dengan frustrasi.
Keesokan malamnya, Hafyd dan Yuli menunggu di luar ruang ICU Palupi. Hafyd berjalan mondar-mandir di depan pintu menunggu keputusan beberapa dokter yang kini memeriksa Palupi.
Yuli menggigit jari-jarinya menahan gugup. Ia mulai menebak sesuatu, mengingat perkataan Palupi terakhir kali dan Palupi yang pagi ini gagal sadar.
Mereka berdua menoleh bersamaan saat pintu ICU terbuka.
"Dokter, gimana kondisi Palupi?" tanya Hafyd, meraih pakaian dokter tersebut.
"Pasien sudah koma total. Otaknya mengalami pembengkakan. Kini pasien mengalami herniasi otak. Kanker di otaknya menekan batang otaknya terlalu cepat hingga otaknya mengalami pembengkakan. Kalian harus menyiapkan diri. Segera hubungi keluarganya."
Hafyd mencengkeram kerah dokter di hadapannya. "Bukankah kau itu dokter? Bukankah kau itu ada untuk menyelamatkan orang? Selamatkan dia! Aku akan bayar berapa pun yang kalian minta! Buat dia sadar lagi!!"