Hafyd menatap Rendra dengan cibiran. "Kau sudah sehat? Masuklah, putrimu menunggumu di dalam."
Rendra mengerutkan kening. Ia meraih kerah pakaian Hafyd. "Apa maksudmu?"
Hafyd tersenyum ringan, melepas cengkeraman Rendra. "Kau bisa masuk dan lihat."
Rendra menatap tajam Hafyd, lalu masuk ke dalam ruang itu. Di dalam sana hanya ada satu tempat tidur. Terlihat jelas bahwa ada seseorang yang berbaring di bawah selimut putih tipis itu. Rendra merasa jantungnya berdebar begitu kencang, sangat kencang, tapi kakinya terus melangkah bahkan tanpa ia perintah terlebih dahulu.
Tangannya bergerak membuka selimut putih itu tanpa sadar.
Begitu melihat wajah orang di bawah selimut itu, Rendra menggeleng tidak percaya. Tubuhnya mundur perlahan.
"Tidak! Tidak!!"
Tubuh Rendra jatuh tersungkur ke belakang lalu mendekat lagi. Hafyd dan Yuli masuk ke dalam ruang itu, berdiri tak jauh dari tempat Rendra berada. Rendra sontak menoleh ke arah Hafyd dan Yuli.
"Kalian... apa yang kalian lakukan? Dia siapa? Di mana putriku? Di mana Palupiku??"
"Bukankah dia sudah berada di depanmu, Rendra? Kau yang membuatnya menjadi seperti ini."
Rendra menggeleng tak percaya. "Nggak!! Nggak mungkin! Palupiku sehat selama ini. Ini bukan Palupi!"
Hafyd menyerahkan tumpukan laporan medis dan melemparnya ke hadapan Rendra.
"Rendra... kau tak hanya berutang pada Intan, kau juga berutang pada Palupi, putrimu, Rendra!!" ucap Hafyd dengan suara menggelegar.
Rendra meraih lembaran-lembaran surat yang tersebar di depannya dan membacanya satu demi satu.
Kanker stadium 4, surat keterangan mati otak, dan surat keterangan donor organ dalam!
"Omong kosong!"
Ia berjalan ke arah Hafyd.
"Hafyd, apa kau marah karena aku mengkhianati Intan? Sampai kau membuat drama seperti ini? Palupi sehat, aku sudah memeriksanya beberapa bulan lalu, dan... dan apa itu maksudnya? Donor organ dalam?"
Hafyd tertawa mencibir. "Rendra! Bukankah kau punya otak? Kau percaya perkataan para bawahanmu, tapi kau tak percaya pada perkataan Palupi. Kau bahkan memanjakan putri orang lain, dan mengabaikan Palupi sampai dia memutuskan semua ini sendiri? Kau benar-benar bajingan, Rendra!"
Hafyd jatuh di hadapan Rendra.
"Rendra, itu putri Intan, putri kesayangan Intan. Bukankah kau menyayanginya waktu itu? Kini kenapa kau malah berbuat seperti itu pada Palupi? Dia masih belasan tahun, Rendra. Dia seharusnya punya masa depan yang cerah, tapi kenapa kau membuat Palupi jadi seperti ini? Apa dosa Palupi padamu? Aku tanya padamu! Jawab, Rendra!!"
Rendra mundur beberapa langkah. Ia tak percaya, tak percaya sama sekali.
"Apa kau tahu jantung yang menopang jantung rusakmu itu adalah jantung milik Palupi? Apa kau tahu ginjal yang ada di tubuh Perso itu ginjal milik Palupi??"
Rendra menggeleng, menolak semua hal itu, lalu berlari ke arah Palupi.