Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #39

39

Rendra tersenyum getir setelah selesai membaca surat di tangannya. Semua yang ia lakukan selama ini adalah untuk Palupi, tapi ia malah lupa menanyakan apakah Palupi setuju dengan rencananya ini atau tidak.

Ia menghapus air mata yang mulai menggenang di matanya. Tangannya bergerak lagi, membuka semua isi buku harian Palupi. Ia ingat dengan baik bahwa ini adalah hadiah dari istrinya untuk Palupi.

"Aku mau menulis lagi mulai hari ini. Aku merasa semuanya harus aku tulis sejak sekarang."

'Ibu, ayah menikah lagi. Bibi itu juga bawa putrinya yang seumuran denganku.'

'Kakak kasih aku cokelat sama minuman susu. Kayaknya kakak lupa kalau aku alergi susu.'

'Sopir yang biasa menjemputku dipakai Bibi Reta, jadi aku menumpang di mobil kakak. Aku diajak ke mal, tapi kakak nggak beliin apa pun buat aku. Tapi pas pulang, kakak beliin es kopi susu buatku karena udah bantu bawain belanjaan Frisca. Tapi aku malah nggak berani minum.'

'Ayah minta aku kasih kamarku untuk Frisca dan memintaku tidur di kamar tamu.'

'Aku nggak bisa tidur di tempat tidur yang bukan buatan ibu.'

'Aku pikir setelah kasih kamarku buat Frisca, ayah mau ajak aku makan bareng lagi kayak dulu, pas ibu masih ada. Ternyata nggak.'

'Sudah 2 hari dan aku masih belum bisa tidur.'

'Aku pakai pakaian buatan ibu buat alas tempat tidur baruku supaya aku bisa tidur.'

'Pakaian ibu dirusak semua. Aku marah, tapi ayah malah marah padaku.'

'Aku kembali tidak bisa tidur lagi.'

'Ayah dan kakak khawatir padaku. Dia bahkan minta aku kembali ke kamar milikku. Akhirnya aku bisa tidur nyenyak lagi.'

'Ayah mau rayain ulang tahun Frisca di rumah, padahal Ayah udah nggak pernah rayain ulang tahunku selama 5 tahun ini.'

'Ayah marah lagi. Ayah pingsan karena aku, dan ternyata jantungnya selama 5 tahun ini rusak karena aku.'

'Padahal aku juga nggak tahu kenapa di tanganku ada rekam medis yang bilang aku sakit kanker. Waktu ayah membentakku, mendadak kepalaku terasa aneh. Aku tidak ingat bagaimana rekam medis itu ada di tanganku. Tapi kenapa sopirku berbohong bilang aku pergi ke mal?'

'Kakak menamparku. Dia bilang ini semua terjadi karena aku. Benar, ayah sakit begini karena aku. Ibu pergi pun juga karena aku.'

'Ayah akhirnya pulang dari rumah sakit. Tapi dia menghukumku. Ayah kasih kamarku ke Frisca lagi. Dia juga ambil sopir pribadiku.'

'Ini hari pertamaku naik taksi dan berjalan 1 km buat berangkat ke sekolah. Aku nggak punya uang. Ayah nggak kasih uang saku buat naik taksi, jadi aku pinjam uang dari Butler. Tapi dia cuma punya 300. Aku nggak tega minta semua uangnya, aku pinjam 200. Tapi ternyata harga taksi mahal juga, 150 sekali berangkat.'

'Pulangnya aku ketemu teman baik yang mau ajarin aku naik angkot. Namanya Winda.'

'Aku dapat kerjaan karena Winda. Awalnya aku pusing harus gimana buat bayar angkot ke depannya. Tapi dia bantu aku buat dapat kerjaan di tempatnya. Gajinya nggak banyak. Hari ini cuma dapat 50 ribu setelah cuci 100 piring, karena aku pecahin 2 piring sebagai tanggung jawab. Hehe... tapi nggak apa-apa, yang penting aku punya uang buat berangkat sekolah.'

Lihat selengkapnya