Ayah, Maaf

tri puji rahayu
Chapter #40

40

Seminggu berlalu dengan cepat. Perso tak pernah mau keluar dari kamarnya. Ia selalu duduk di bawah tempat tidur sambil terus membaca buku harian Palupi.

Tangisnya terus pecah saat mengingat kejadian-kejadian yang ditulis di buku harian Palupi.

Ia lupa, lupa bahwa Palupi alergi susu. Dan ia malah memberikan Palupi makanan-makanan itu. Ia juga tak tahu bahwa Palupi benar-benar tak punya uang untuk pulang. Ia menyesali semua tindakannya di masa lalu.

Ia tidak tahu kenapa ia mulai menjauhi Palupi, bahkan mengabaikannya. Tapi, mungkin setelah mengetahui jantung ayahnya mengalami kerusakan.

Padahal dulu dia sangat menyayangi Palupi. Sangat! Bahkan saat tahu bahwa ibunya memilih menyelamatkan nyawa Palupi dibanding nyawanya sendiri. Tapi saat Rendra jatuh sakit, ketakutan bahwa ia dan Palupi akan tinggal berdua di dunia ini membuat ia mulai sedikit demi sedikit membenci Palupi.

"Palupi... kakak salah, kakak minta maaf. Maafin kakak."

Hampir setiap hari Rendra datang ke kamar Perso memintanya keluar. Namun dia terus menolak. Akhirnya Rendra hanya meminta pelayan mengantar makanan untuk Perso.

"Reta, Frisca." ucap Rendra setelah diam beberapa saat di ruang tamu kediaman.

"Kalian bisa pergi dari rumah ini mulai sekarang. Ini surat cerai kita. Sedangkan ini," ucap Rendra sambil menyodorkan sebuah dokumen.

"Ini kompensasi kalian. Gunakan ini untuk kalian hidup di masa depan."

"Ayah..." panggil Frisca menarik lengan Rendra.

Rendra menggeleng. "Frisca, aku bukan ayahmu. Anakku hanya Palupi dan Perso."

"Rendra... apakah kita harus seperti ini? Kita sudah tinggal bersama selama beberapa bulan ini. Apa kamu harus bertindak sejauh ini? Aku tahu kau baru saja kehilangan Palupi, tapi Frisca juga sudah menganggapmu sebagai ayah. Apa tidak bisa?"

Lihat selengkapnya