Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #1

Bab 1 - Toko Bunga Pelipur Lara

AYAH, PULANGLAH, ANAKMU RINDU!

Sudah dua bulan terakhir, Cahaya, yang biasa dipanggil Cahya oleh teman-temannya, tidak bisa menghubungi ayahnya. Nomor telepon yang selama ini selalu menjadi tempat mengeluhkan segala persoalan dirumah dan juga keluh kesah pribadinya, tidak bisa lagi dihubungi. Ayahnya meninggalkan kota Surabaya tanpa memberitahu siapapun. Ia kadang merasa Ayahnya jahat, meninggalkan ia dan adik-adiknya tanpa pesan apapun. Memang, keluarganya sudah lama tidak utuh, ayah dan ibunya berpisah dan sudah tidak tinggal bersama, tapi ayahnya masih selalu berkabar dan membayar kebutuhan rumah saat dibutuhkan. Hingga dua bulan lalu, ayahnya berhenti berkabar, dan tidak bisa dihubungi.           

BAB 1 – Toko Bunga Pelipur Lara

Sudah pukul 15.47, pemesan bunga terakhir, sudah diselesaikan paketnya oleh Cahya. Bunga untuk perayaan wisuda Almira, mahasiswi tingkat akhir jurusan Psikologi, sudah selesai dirangkai olehnya. Kawan seperjuangannya sebagai mahasiswi, lebih dulu berhasil menyelesaikan ujian skripsi. Permintaan paket bunga di toko tempat Cahya bekerja, selama seminggu terakhir memang dipenuhi oleh pesanan mahasiswi yang akan merayakan syukuran wisuda. Kadang, perasaan bahagia dan sedih bercampur dalam diri Cahya saat merangkai bunga untuk mereka. Sebagai mahasiswi yang sudah melewat batas study empat tahun dikampusnya, ia juga ingin segera lulus dan merayakannya bersama ibu dan ayahnya. Tetapi tanggungjawabnya untuk adik-adiknya, membuat ia lebih sering membagi fokus mencari uang daripada menyelesaikan skripsinya. Akhirnya, ia masih harus menambah satu tahun lagi. Dan ini adalah kedua kalinya ia mengajukan perpanjangan semester, hanya untuk menyelesaikan skripsi. Itu berarti ia harus sabar selama tahun kelima ia di universitas.

Di Toko bunga tempat Cahya bekerja ada tiga orang yang bergantian secara sift menjaga toko. Cahya lebih sering mengambil sift pagi demi memberi waktu ke teman-temannya, yang masih aktif menjadi mahasiswi juga, meskipun dengan kampus yang berbeda. Ada Lidya, yang menjadi mahasiswi akuntansi di universitas swasta, dan ada juga Ratna yang bercita-cita menjadi perawat, belajar di sekolah tinggi kesehatan. Mereka bertiga berusaha saling membantu mengatur waktu jika harus menghadapi kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Kadang-kadang meskipun sudah terbagi jadwal sift perminggu, mereka saling kompromi untuk bergantian jika tiba-tiba jadwal dari dosen atau perkuliahan mereka mengharuskan untuk datang diluar jadwal.

Masing-masing mereka punya kebiasaan unik selepas bekerja menjaga toko. Dan mereka sudah berjanji akan melakukan itu bersama-sama ataupun sendirian, sebelum menutup toko. Semacam memberi hadiah kecil untuk kebahagiaan hati setelah seharian bekerja. Lidya, akan memutar musik kegemarannya, lagu korea, dan ikut bernyanyi hingga satu lagu usai. Ratna, yang tak pernah melupakan kebaikan ibunya yang menghidupinya dengan usaha menjahit, ia akan mempraktekkan menyulam kain. Ratna sedang menyelesaikan sulaman baju untuk kucing. Kecintaan kepada kucing jugalah yang membuat mereka bertiga menjadi sangat dekat. Cahya sendiri, punya kegemaran menulis puisi.

Dan hari ini, seperti biasa, saat toko selesai ia tutup, Cahya mengambil buku catatannya, lalu menuliskan puisi. Ia menghitung, sudah puisi ke tigapuluh yang ia tuliskan sejak kepergian ayahnya. Ia memutuskan tidak menyerah pada kerinduannya setelah ayahnya menghilang;

Lihat selengkapnya