Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #2

Bab 2 - Panggilan Telepon dari Kamboja

Bab 2 – Panggilan Telepon dari Kamboja

Cahya membuka kotak nomor telpon di handphone-nya. Mencari nomor yang kira-kira bisa membantunya melacak informasi tentang keberadaan ayahnya. Nomor telpon yang mengirimkan pesan misterius sehari sebelumnya sudah tidak aktif dan tidak bisa lagi dihubungi. Sepanjang malam, Cahya mencoba mencari sebanyak mungkin informasi tentang situasi pekerjaan di Kamboja yang disampaikan si pengirim misterius. Rasa cemas didada Cahya berubah menjadi ketakutan, sebab hampir semua berita tentang pekerjaan di Kamboja yang dia cari disitus informasi google mengarah pada kebenaran akan perdagangan manusia.

Cahya belum juga berani bercerita ke siapapun dirumah. Ia tak ingin membuat kecemasannya terbagi ke adik-adiknya. Ia tahu, adik-adiknya akan bercerita kepada ibunya, jika berita itu sampai kepada mereka. Cahya memilih menelan sendiri rasa cemas dan takut itu sendirian.

Cahya mengusap wajahnya berkali-kali sebelum akhirnya menekan sebuah nomor yang tersimpan di telepon genggamnya.

"Pak Hendra."

Dua tahun lalu, lelaki itu pernah bekerja bersama ayahnya sebagai sopir ekspedisi antarkota. Setelah ayahnya berhenti bekerja, Pak Hendra masih sesekali menghubungi Cahya untuk menanyakan kabar keluarga mereka. Mungkin, pikir Cahya, jika ada seseorang yang mengetahui ke mana ayahnya pergi, orang itu adalah Pak Hendra.

Nada sambung terdengar cukup lama.

"Assalamu'alaikum."

"Wa'alaikumussalam, Pak Hendra... saya Cahya."

"Oh, Cahya. Ada apa, Nak?"

Suara lelaki paruh baya itu terdengar ramah, tetapi berubah pelan ketika Cahya menanyakan nama ayahnya.

"Bapakmu belum pulang?"

Cahya menggigit bibirnya.

"Sudah dua bulan kami tidak bisa menghubunginya, Pak." Di seberang telepon terdengar keheningan. "Pak... sebenarnya Bapak tahu sesuatu?"

Pak Hendra menghela napas panjang. "Ayahmu pernah cerita mau dapat pekerjaan di luar negeri."

"Dari mana, Pak?"

"Katanya... Kamboja." Jantung Cahya berdegup semakin keras.

Lihat selengkapnya