Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #3

Bab 3 - Memeluk Kesedihan

Bab 3 – Memeluk Kesedihan

Cahya terus menatap layar teleponnya. Malam itu ia tidak bisa tidur, ia melihat adik-adiknya yang terlelap. Membayangkan masa depan mereka tanpa ayah. Disudut kamar, ia melihat ibunya belum tidur, masih memilah-milah pakaian dan sandal yang akan dijual dipasar besok. Ia rasanya ingin menceritakan ke Ibunya, tapi takut malah ibunya akan membuatnya semakin sedih. Cahya hanya bisa menangis memeluk lututnya.

Tapi ibunya seperti tersadar dengan perubahan Cahya yang sejak kemarin tidak menunjukkan wajah ceria.

“Kamu kenapa Cahya?” Pertanyaan ibunya mengagetkan Cahya. Cahya yang sedang memeluk lulutnya, berusaha menghapus airmatanya dengan cara menggosokkan wajahnya ke lutut. Ia tidak ingin matanya yang sembab terlihat oleh ibunya. 

"Enggak apa-apa, Bu."

Ibunya menghentikan tangannya yang sedang melipat beberapa potong pakaian. Ia menatap anak sulungnya cukup lama. Sebagai seorang ibu, ia tahu kapan anaknya sedang berbohong.

"Kalau memang capek kerja, besok bilang sama Ibu. Biar Ibu saja yang ke pasar. Kamu istirahat." Cahya menggeleng pelan. "Aku tidak capek."

"Lalu kenapa menangis?"

Pertanyaan itu membuat tenggorokan Cahya tercekat. Rasanya begitu mudah untuk mengatakan semuanya. Bahwa ada seseorang yang mengabarkan ayah berada di Kamboja. Bahwa selama dua bulan ayah tidak memberi kabar. Bahwa mungkin, saat ini ayah sedang berada dalam bahaya.

Namun ia mengenal ibunya, sangat mengenal. Nama ayah adalah satu-satunya topik yang selalu mengubah wajah perempuan itu menjadi keras.

"Bu..."

"Iya?" jawab ibunya sambil tetap fokus ke lipatan bajunya.

"Kalau... seandainya seseorang yang pernah menyakiti kita sedang mengalami kesulitan... apa kita masih perlu menolongnya?"Ibunya terdiam. Tangan yang sejak tadi sibuk melipat pakaian berhenti bergerak.

"Itu tergantung siapa orangnya."

"Kalau... Ayah?"

Lihat selengkapnya