Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #4

Bab 4 - Sahabat yang Tulus

Bab 4 – Sahabat yang Tulus

Cahya mencoba meyakinkan diri bahwa pasti ada cara untuk menemukan ayahnya. Bahwa, berita-berita yang ia baca tentang pekerjaan scam adalah bagian dari bisnis perdagangan manusia, adalah tidak benar. Ia terus meyakinkan dirinya bahwa berita-berita semacam itu adalah hoax. Cahya berusaha menghubungi kawan semasa SMA nya, Rinto yang sekarang sudah menjadi polisi. Selepas SMA, Rinto memilih untuk mendaftar polisi setelah tidak lulus masuk perguruan tinggi. Ia lulus dengan pangkat Briptu. Cahya tahu kalau Rinto pernah menyukainya, meskipun mereka tidak sempat berpacaran, karena ayah Cahya melarang anaknya berpacaran. 

Dimata Cahya, Rinto anak yang baik dan sholeh. Karena kebaikan itu juga, Rinto juga tidak pernah memintanya untuk menjadi pacar sewaktu SMA. Mereka setuju untuk bersahabat saja. Dan mereka berdua masih sesekali bertemu sebagai sahabat. Cahyo ingat, terakhir berkomunikasi dua minggu lalu, Rinto bercerita akan pindah tugas ke Sidoarjo, setelah melewati 3 tahun masa penugasan pertamanya disalah satu Kantor Polisi Kecamatan ( Polsek) di daerah Banyuwangi. Itu artinya mereka bisa lebih sering bertemu.

Cahya sedikit menahan diri untuk memulai menelpon, ia tahu ini masih jam kerja, dan masih terlalu pagi untuk mengagetkan Rinto tentang situasi ayahnya.

Setelah menimbang-nimbang perasaan ragunya, akhirnya ia kembali menatap layar ponselnya. Cahya menatap nama Rinto yang muncul di layar teleponnya. Jarinya beberapa kali bergerak hendak menekan tombol panggil, tetapi selalu berhenti di tengah jalan. "Apa pantas aku mengganggunya saat jam dinas?" gumamnya.

Ia menarik napas panjang. Tidak ada lagi orang lain yang bisa ia mintai bantuan. Akhirnya, ia menekan tombol hijau. Nada sambung terdengar dua kali.

"Halo, Cahya?"

Suara di seberang terdengar mantap, diselingi suara beberapa orang yang membincangkan laporan disekitarnya.

"Assalamu'alaikum, Rin."

"Wa'alaikumussalam. Tumben nelepon pagi-pagi. Ada apa?"

Cahya tersenyum tipis. Rinto masih sama seperti dulu. Tidak pernah banyak basa-basi.

"Kamu lagi sibuk?"

"Sedikit. Lagi beresin laporan. Kenapa? Suaramu kok beda?"

"Dengar, ya?" Cahya mencoba tertawa kecil, meski terdengar dipaksakan.

"Kalau sudah kenal lama, suara orang lagi sedih itu gampang dikenali." Kalimat sederhana dari Rinto itu membuat Cahya terdiam. Sejak menerima pesan misterius tentang ayahnya, baru kali itu ada seseorang yang benar-benar menyadari bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

"Cahya?"

"Iya..."

"Kamu nangis?"

Cahya buru-buru menggeleng, seolah Rinto bisa melihatnya."Enggak." Cahya menjawab sembari menyeka matanya yang berair

"Jangan bohong." Beberapa detik berlalu tanpa suara. Rinto akhirnya berbicara lebih pelan. "Ada hubungannya sama Om, ya?"

Cahya terkejut. "Kok kamu tahu?"

"Dua minggu lalu waktu kamu nelpon, kamu cerita Om sudah susah dihubungi...lupa ya?"

Lihat selengkapnya