Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #5

Bab 5 - Malam yang mengubah rencana Ayah - 2 Bulan Sebelumnya.

Bab 5 – Malam yang mengubah rencana Ayah – 2 Bulan Sebelumnya.

           Setelah merasakan beratnya menganggur tampa pekerjaan selama berbulan-bulan. Pak Karmin malam itu mendatangi Rudi, pengurus tenaga kerja yang alamatnya ia dapatkan di facebook. Pak Karmin tidak berpikir panjang saat Rudi menawariya untuk ikut rombongan ke Jakarta dua hari kedepan. Meskipun jauh hari sebelumnya Pak Karmin ingin menghubungi Pak Hendra, sahabatnya, untuk bisa kembali bekerja menjadi kenek, dan Pak Hendra menyetujuinya asalkan Pak Karmin mau menunggu dua minggu lagi, sebab saat ini pabrik tempat Pak Hendra bekerja sedang tidak menerima lowongan.    Pak Karmin membuka catatan di handphonenya. Ia menghitung berapa biaya yang harus disiapkan untuk kebutuhan anak-anaknya, termasuk biaya kuliah Cahya untuk semester berikutnya, yang harus di bayar bulan depan, total semua biaya yang dibutuhkan termasuk untuk kebutuhan dirumah Cahya, sekitar 7 juta. Ia memutar otak dengan keras, bagaimana saya bisa mendapatkan uang itu, dan bagaimana nasib adik-adik Cahya jika saya hanya menjadi kenek Pak Hendra? Rasa frustasinya, akhirnya membuatnya mau menghubungi Rudi.

        Pak Karmin memejamkan mata. Di atas meja kayu yang mulai kusam itu, secarik kertas penuh coretan angka tergeletak begitu saja. Angka-angka yang sejak tadi ia jumlahkan tak pernah berubah. Tujuh juta rupiah tetap terasa seperti gunung yang tak mungkin ia daki.

Ia menoleh ke arah foto keluarga yang tergantung di dinding. Foto itu diambil belasan tahun lalu, saat Cahya masih duduk di bangku sekolah dasar. Wajah anak-anaknya masih penuh tawa. Difoto itu istrinya pun masih tersenyum di sampingnya. Pak Karmin menatapnya lama.

"Maafkan Bapak..."

Kalimat itu terucap lirih, entah kepada anak-anaknya, entah kepada dirinya sendiri. Sudah terlalu lama ia hidup dari pekerjaan serabutan. Menjadi kenek truk, mengangkat barang di gudang, bahkan pernah menjadi buruh bongkar muat di pelabuhan. Semua ia jalani. Namun semakin bertambah usia, tenaga yang dimilikinya tak lagi cukup untuk mengejar kebutuhan hidup yang terus meningkat.

Yang paling membuatnya gelisah bukanlah dirinya. Melainkan Cahya. Anak sulungnya itu seharusnya hanya memikirkan kuliah dan skripsi. Namun kini justru bekerja di toko bunga untuk membantu biaya rumah. Setiap kali Cahya mengirim pesan, "Pak, jangan lupa makan," hati Pak Karmin terasa seperti diremas.

Seharusnya seorang ayah yang mengkhawatirkan anaknya. Bukan sebaliknya. Ia mengambil telepon genggamnya. Nama Pak Hendra masih berada di daftar panggilan terakhir. Kalau ia mau, tinggal menunggu dua minggu lagi. Pak Hendra sudah berjanji akan membantunya masuk kembali bekerja sebagai kenek. Tetapi dua minggu terasa terlalu lama. Sementara tagihan datang tanpa mau menunggu. Pak Karmin membuka kembali percakapannya dengan seseorang bernama Rudi di histori wa-nya.

"Kalau serius, kita berangkat lusa. Gaji minimal lima belas juta sebulan. Tempat terbatas." Ia membaca pesan itu berulang kali.

Lima belas juta. Jumlah itu hampir dua kali lipat dari penghasilannya selama beberapa bulan terakhir. Kalau benar...Dalam beberapa bulan saja ia bisa melunasi utang-utangnya. Cahya bisa kembali fokus kuliah. Adik-adiknya tidak perlu menunggak uang sekolah.

Pak Karmin menutup mata. "Ya Allah... tunjukkan jalan terbaik."

Malam semakin larut ketika Pak Karmin tiba di sebuah warung kopi kecil di pinggir jalan di persimpangan Waru Sidoarjo. Rudi sudah menunggu di sana. Usianya sekitar tiga puluh lima tahun. Berkaus polo hitam dan celana jeans. Penampilannya rapi, jauh dari kesan seorang calo tenaga kerja. Di meja sudah tersedia dua gelas kopi yang masih mengepulkan uap.

"Pak Karmin?" sapa Rudi sambil berdiri.

"Iya."

"Silakan duduk, Pak." Nada sopan Rudi menenangkan hati Pak Karmin.

Pak Karmin mengangguk pelan. Setelah berbasa-basi beberapa menit, Rudi langsung masuk ke pokok pembicaraan.

"Pak Hendra bilang Bapak pernah kerja di ekspedisi?"

"Iya. Sudah hampir sepuluh tahun." Jawab Pak Karmin dengan lugas.

"Bisa mengoperasikan komputer?"

Pak Karmin tersenyum malu. "Sedikit. Paling-paling WhatsApp sama YouTube."

Lihat selengkapnya