Bab 6 - Breaking News Dari Kamboja
Sebuah tempat penampungan para pekerja ilegal dari berbagai negara di Asia, dikawasan Provinsi Svay Rang yang berbatasan dengan Vietnam diserbu oleh militer Kamboja. Operasi besar-besaran ini dilakukan pemerintah Kamboja menyusul protes dari berbagai negara Asean akan maraknya penipuan online yang berpusat di Kamboja. Tercatat ada sekitar 1800 pekerja scammer yang tertangkap, dan lebih dari 300 diantaranya warga negara Indonesia.
Breaking News ditelevisi nasional Indonesia pada malam ketiga saat Cahya baru menyadari ayahnya sudah tidak di Indonesia, mengalihkan perhatiannya, saat ia sedang membantu ibunya menata jualan pakaian di toko yang menyatu dengan rumahnya. Beruntung rumah kecil mereka berada tepat pinggir jalan utama, sehingga berbagai dagangan bisa mereka jual. Toko kecil itu kebih mirip toko kelontong, ukurannya hanya 2 x 3 tetapi ada ruang yang cukup luas didepannya yang berbatasan langsung dengan jalan raya. Selama bertahun- tahun, bahkan sebelum Ayahnya pergi, toko kecil itulah yang menghidupi keluarga mereka. Ibunya selain berjualan dipasar di pagi hingga siang, lalu dimalam hari, mereka memasarkan jualan di toko kecil itu.
Mata Cahya tidak berpaling seidikitpun pada monitor televisi. Dadanya berdegup kencang, seolah jantungnya ingin melompat keluar. Ia tidak sadar, saat ia menonton berita itu, ibunya sudah berdiri disampingnya sejak tadi dan memperhatikan perubahan wajah Cahya saat menonton berita.
"...tiga ratus warga negara Indonesia berhasil diamankan dalam operasi gabungan aparat keamanan Kamboja. Pemerintah Indonesia melalui Kedutaan Besar RI masih melakukan proses identifikasi terhadap warga Indonesia yang ditahan...."
Suara penyiar televisi memenuhi ruang tamu kecil itu. Mata Cahya tidak berkedip. Tangannya masih memegang beberapa potong pakaian yang belum sempat disusun ke rak. Dadanya berdebar semakin cepat.
"Ya Allah... jangan sampai Ayah ada di sana...." suara gumam Cahya nyaris tak terdengar, tapi suara itu hanya berjarak kurang dari satu meter dari tempat Ibunya yang juga sedang menonton berita yang sama.
"Ya sudah." Suara ibunya tiba-tiba terdengar dari samping. Cahya tersentak. Ibunya itu rupanya sudah berdiri di dekatnya sejak beberapa menit lalu.
"Matikan televisinya."
Cahya tidak bergerak.
"Cahya."
"Iya... Bu."
"Matikan."
Nada suara tegas Ibunya, mendiamkan Cahya. Dengan tangan gemetar Cahya mengambil remote. Layar televisi berubah hitam.Ruangan menjadi sunyi. Ibunya kembali melipat beberapa kaus dagangan. Lalu melihat ke arah Cahya;
"Kasihan juga mereka." Kalimat itu keluar begitu pelan hingga Cahya hampir tidak mendengarnya. "Mereka siapa, Bu?" Cahya mulai merasakan tak sanggup menahan bibirnya untuk mulai menceritakan yang sebenarnya. Ia merasa, sekaraglah saatnya Ibunya tahu. "Orang-orang Indonesia itu.Mau bagaimana pun... mereka pasti berangkat untuk mencari makan."
Cahya menoleh. Untuk pertama kalinya ia mendengar ibunya berbicara dengan nada iba tentang orang-orang yang terjebak di Kamboja. Tanpa sadar air matanya kembali menggenang.
"Bu..."
"Hm?" Suara Ibunya sangat singkat, seperti tak menaruh curiga apapaun akan apa yang Cahya ingin ceritakan.
"Kalau..."
Cahya berhenti. Lidahnya terasa kelu. "Kalau salah satu dari mereka itu... Ayah?" Gerakan tangan ibunya langsung terhenti. Kaus yang sedang dilipat tetap berada di tangannya. Perempuan dengan garis wajah yang masih menyimpan sisa-sisa kecantikan diwajahnya itu tidak segera menjawab. Ia hanya menatap lantai.
"Cahya..." Suaranya jauh lebih pelan daripada biasanya. "Kenapa kamu tanya begitu?" Ibunya mulai curiga kalau anaknya ini menyembunyikan sesuatu darinya. Air mata Cahya akhirnya jatuh. "Ayah.....mungkin memang ada di Kamboja, Bu."
Ibunya perlahan mengangkat wajah. "Apa maksudmu?"
Dengan tangan gemetar Cahya mengambil telepon genggam dari saku bajunya.Ia membuka tangkapan layar pesan WhatsApp yang selama ini ia sembunyikan. Lalu menyerahkannya kepada ibunya. Ibunya membacanya perlahan. Sekali. Dua kali. Tiga kali. Tangannya mulai bergetar.
"Sudah... berapa lama kamu tahu?"