Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #7

BAB 7 - Daftar yang Tidak Pernah Sampai

BAB 7 – Daftar yang Tidak Pernah Sampai

Pagi itu langit Sidoarjo masih diselimuti mendung tipis ketika sebuah sepeda motor dinas memasuki halaman Polsek Waru. Beberapa anggota polisi yang sudah lebih dulu datang tampak sibuk mengikuti apel pagi. Di antara mereka berdiri seorang polisi muda dengan wajah yang masih cukup asing bagi sebagian anggota. Seragam yang baru dikenakannya masih tampak rapi, lengkap dengan papan nama bertuliskan RINTO.

Hari itu adalah hari pertamanya bertugas di Polsek Waru. Perpindahan tugas dari Banyuwangi yang beberapa minggu lalu ia ceritakan kepada Cahya akhirnya benar-benar terjadi. Seharusnya ia merasa senang. Waru jauh lebih dekat ke Surabaya. Perjalanan menuju rumah Cahya kini hanya membutuhkan waktu sekitar tiga puluh menit. Tidak perlu lagi menunggu libur panjang hanya untuk sekadar bertemu sahabat lamanya itu. Namun sejak beberapa hari terakhir, pikirannya justru dipenuhi wajah Cahya. Suara gadis itu di telepon dua malam lalu masih terngiang jelas di telinganya.

"Rin... Ayah mungkin ada di Kamboja..."

Sejak percakapan itu berakhir, Rinto tidak bisa benar-benar tenang. Bahkan sebelum apel dimulai, ia sudah mencoba mencari beberapa informasi melalui jaringan teman-temannya. Hasilnya belum banyak. Yang ia temukan justru membuat dadanya semakin sesak. Kasus pekerja Indonesia yang berangkat secara ilegal ke Kamboja ternyata jauh lebih besar daripada yang ia bayangkan. Mereka tidak sekadar menjadi pekerja. Sebagian besar berubah menjadi korban. Korban penipuan. Korban penyekapan. Bahkan ada yang tidak pernah kembali.

Rinto mengembuskan napas panjang. Sebagai polisi, ia tahu ada batas yang tidak boleh ia lewati. Pangkatnya masih Briptu. Ia bukan penyidik di tingkat Polda, apalagi penyidik internasional. Namun sebagai sahabat Cahya, ia merasa tidak mungkin hanya duduk diam. Apel pagi berakhir lebih cepat dari biasanya. Seorang perwira menghampirinya.

"Briptu Rinto."

"Siap, Komandan." Rinto memberi hormat ke komandannya langsungnya di bagiana Samapta, seorang berpangkat Inspektur Satu (Iptu)

"Sudah beres penempatan ruang kerjamu?"

"Sudah, Ndan.."

"Silakan menyesuaikan dulu. Minggu pertama tidak usah banyak kegiatan di lapangan."

"Siap." Rinto kembali memberi hormat.

Begitu atasannya berlalu, ia melirik jam tangan. Pukul sembilan lewat lima belas menit. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil telepon genggamnya. Jarinya berhenti beberapa detik di atas nama Cahya. Ia tersenyum kecil. "Semoga dia sudah sedikit lebih tenang." Telepon itu berdering. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

"Halo..." Suara Cahya terdengar pelan.

"Cahya, ini aku."

"Rin?"

"Iya."

"Kamu sudah pindah?" Suara lembut Cahya membuat Rinto bersemangat.

"Baru tadi pagi."

"Lho... hari ini?"

Lihat selengkapnya