BAB 8 – Yang Belum Ditemukan
Phnom Penh, Kamboja.
Sejak berita penyerbuan militer Kamboja ke lokasi perusahaan judi online, pemerintah Indonesia melalui kedutaan besar di Phnom Penh, aktif mendata sejumlah pekerja asal Indonesia. Seperti tercatat sebelumnya, ada sekitar 300 warga negara Indonesia yang ditahan oleh pemerintah Kamboja. Upaya diplomatik terus diupayakan, baik didalam negeri, melalui pemanggilan duta besar Kamboja oleh Kementerian Luar Negeri Indonesia, termasuk di Kamboja sendiri upaya pemerintah Indonesia sangat kuat untuk menyelamatkan warga Indonesia. Bukan hanya Duta Besar Indonesia yang aktif memantau perkembangan warga yang di tahan, tetapi juga Atase Militer Indonesia Kamboja, Letnan Kolonel Maruli Simatupang, yang menduga kuat adanya indikasi perdagangan manusia yang dilakukan oleh pihak-pihak perekrut tenaga kerja. Hasil penelitian sementara menunjukkan, ada mafia yang melibatkan sejumlah aparat, baik itu di Kamboja sendiri maupun di pihak Indonesia. Mafia inilah yang mengatur seluruh urusan, sejak pemberangkatan hingga penempatan tenaga kerja Indonesia di Kamboja.
Setelah beberapa hari upaya diplomatik yang dilakukan oleh kedutaan besar Indonesia, akhirnya membuahkan hasil. Para pekerja Indonesia, sudah berhasil diambil alih oleh kedutaan Indonesia dari pihak keamanan Kamboja. Para pekerja ini, yang sebahagian besar masih usia muda antara 20-35 tahun, dikumpulkan oleh staff dan petugas kedutaan, dalam sebuah tempat penampungan sementara. Tercatat, sudah ada 273 orang yang berhasil diselesaikan persoalan administrasinya oleh kedutaan dengan pihak militer Kamboja.
Hujan baru saja berhenti ketika halaman Kedutaan Besar Republik Indonesia. mulai dipenuhi wajah-wajah lelah. Sebagian duduk bersandar di dinding. Sebagian lain hanya menatap kosong ke arah pagar besi. Mereka adalah sebagian dari ratusan warga negara Indonesia yang beberapa hari sebelumnya ditemukan dalam operasi militer Kamboja di sejumlah kompleks penipuan daring di Provinsi Svay Rieng. Tubuh mereka telah selamat. Namun tidak semua membawa pulang harapan. Ada yang kehilangan paspor. Ada yang kehilangan telepon genggam. Ada pula yang kehilangan teman sekamar yang hingga hari itu belum diketahui keberadaannya.
Di sudut halaman, seorang petugas Kedutaan memegang selembar daftar nama. Suaranya terdengar lantang, tetapi tetap menyimpan rasa iba.
"Saudara-saudara..." Petugas itu membenahi sedikit mikrofon yang suaranya tidak terlalu keras…
"Saudara-saudara...Data sementara yang berhasil kami himpun..." Ia mendekatkan kertas yang ada ditangannya ke wajahnya, demi memastikan jumlah angka yang dibacanya sesuai. “...sebanyak dua ratus tujuh puluh tiga warga negara Indonesia telah berada dalam perlindungan Kedutaan."
Beberapa orang menarik napas lega. Namun petugas itu belum selesai.
"Dari hasil pendataan.....masih terdapat beberapa warga negara Indonesia yang belum berhasil ditemukan."
Suasana mendadak sunyi. Petugas mulai membaca.
"Budi Santoso..." Tidak ada jawaban.
"Joko Prasetyo..." Hening.
"Herman Saputra..." Seorang pekerja perempuan menangis pelan.