Bab 9 – Kesabaran dan Kematangan Rencana
Cahya sedang membingkai bunga teratai dan menyatukannya dengan pernik-pernik dari bahan plastik. Pikirannya sedkit lebih tenang hari ini. Setelah pengertian ibunya, lalu mendapatkan ijin untuk pergi mencari Ayahnya, Ia hanya perlu mencari lebih banyak informasi mengenai Kamboja dan jalur untuk sampai ke negeri itu. Ia sudah menghitung biaya yang mesti ia siapkan dalam kondisi normal untuk perjalanan. Setidaknya Ia harus menyediakan biaya Sepuluh juta pulang pergi dari Surabaya ke Kamboja dan untuk tiket kepulangannya ayahnya. Biaya itu sudah termasuk biaya hidupnya untuk satu bulan di Kamboja.
Cahya rajin membaca pengalaman-pengalaman orang-orang yang sering melakukan perjalanan secara Backpacker ke negeri-negeri Asean. Bahkan ia sudah mendaftrakan nomornya ke grup WhatsApp Backpacker Indonesia. Untuk berjaga-jaga kalau saja diperjalanan nanti ia tak tahu apa yang harus ia lakukan. Soal bahasa, Cahya tidak terlalu khawatir, Ia cukup menguasai inggris.
Karena uang dari ibunya belum cukup, maka ia mesti bersabar sampai akhir bulan, menunggu gaji untuk bulan ini di bayarkan toko tempat Ia bekerja, agar bisa memulai perjalanan. Itu berarti ia masih harus menunggu hingga tiga minggu lagi, sebab hari ini baru tanggal sembilan. Cahya biasanya menerima gaji sekitar tanggal 29 atau tanggal 30 diakhir bulan berjalan.
Lidya yang sejak tadi memperhatikan Cahya bekerja akhirnya menghampiri meja tempat Cahya sedang merangkai bunga.
"Sejak kapan kamu suka bunga teratai?" tanyanya sambil tersenyum.
Cahya sedikit terkejut.
"Hah?"
"Kamu dari tadi cuma merangkai teratai. Biasanya kalau lagi banyak pikiran kamu pilih mawar." Cahya baru menyadari bahwa tanpa sengaja ia telah menghabiskan hampir seluruh stok bunga teratai. Ia tersenyum tipis.
"Mungkin lagi bosan sama mawar."
Lidya menggeleng pelan.
"Bukan. Kamu lagi mikirin sesuatu, kan?"
Cahya tidak langsung menjawab. Tangannya terus membungkus rangkaian bunga dengan kertas berwarna cokelat muda. Di dalam hatinya ia ingin sekali bercerita. Tetapi semakin sedikit orang yang mengetahui rencananya, semakin kecil kemungkinan ada yang berusaha mencegahnya.
"Aku cuma capek."
Lidya menatap wajah sahabatnya beberapa detik. "Kalau capek itu matanya ngantuk." Ia memperhatikan sahabatnya itu. "Kalau matamu...kayak orang lagi pamit."
Kalimat itu membuat tangan Cahya berhenti bergerak. Ia menoleh.
"Aneh ya?"
Lidya mengangguk pelan. "Sudah hampir lima tahun kita kerja bareng." Lidya bergerak mendekatkan wajahnya ke wajah Cahya, seolah mencarai sesatu yang disembunyikan dibalik mata Cahya. "Aku hafal wajahmu." Mereka sama-sama diam.
"Kalau ada sesuatu..."
"...aku enggak akan maksa kamu cerita."
"Tapi jangan ditanggung sendiri." Kata Lidya.
Cahya menggenggam tangan Lidya. "Terima kasih." Hanya itu yang mampu ia ucapkan.
Sepulang bekerja, Cahya tidak langsung pulang ke rumah. Ia berhenti di sebuah warung kopi kecil yang menyediakan jaringan internet gratis. Ia membuka kembali grup WhatsApp Backpacker Indonesia. Ratusan percakapan memenuhi layar telepon genggamnya. Sebagian membahas tiket murah. Sebagian membahas hostel. Sebagian lagi berbagi pengalaman melintasi perbatasan Thailand, Laos, dan Vietnam. Cahya membaca semuanya dengan teliti. Sesekali ia mencatat nama kota, tarif penginapan, dan nomor telepon yang mungkin suatu hari nanti berguna. Hingga sebuah pesan baru muncul.
"Hati-hati kalau mau ke Kamboja sendirian. Banyak daerah yang aman untuk wisata, tapi jangan pernah percaya tawaran pekerjaan dari orang yang baru dikenal."
Di bawahnya seseorang membalas.
"Kalau tujuanmu bukan wisata, sebaiknya lapor dulu ke KBRI."