BAB 10 – Saat Badai, Akan Selalu Ada Seseorang yang Tetap Tinggal
Langit Sidoarjo sudah berubah gelap ketika Rinto menyalakan mesin motornya. Angin malam menerpa wajahnya sepanjang perjalanan menuju rumah kontrakan kecil yang disewanya tidak jauh dari Polsek Waru. Jalanan masih ramai oleh kendaraan para pekerja yang baru pulang. Lampu-lampu toko memantulkan cahaya kekuningan di atas aspal yang masih basah oleh hujan sore tadi.
Namun sejak meninggalkan rumah Cahya, Rinto hampir tidak benar-benar melihat jalan yang dilaluinya. Yang terus memenuhi pikirannya hanyalah wajah Cahya. Tatapan mata perempuan itu berbeda dari biasanya. Ada ketakutan di sana. Tetapi di balik ketakutan itu, Rinto melihat sesuatu yang jauh lebih kuat. Tekad. Rinto mengenal Cahya sejak bangku SMA. Ia tahu, kalau Cahya sudah mengambil keputusan, hampir tidak ada yang mampu mengubah pikirannya. Itulah yang justru membuatnya semakin khawatir.
Sesampainya di kontrakan, Rinto tidak langsung mengganti pakaian. Seragam dinasnya masih tergantung di bahu kursi. Ia hanya membuka kancing paling atas, lalu duduk di depan meja belajar yang dipenuhi buku hukum pidana, map laporan, dan sebuah laptop yang mulai kusam dimakan usia. Ia menekan tombol daya. Layar menyala.
Jari-jarinya berhenti beberapa detik di atas papan ketik. Lalu ia mengetik pelan sambil bergumam.
“Human Trafficking Cambodia Indonesia”
Puluhan berita bermunculan. Semakin lama membaca, wajah Rinto semakin tegang. Laporan mengenai penyiksaan. Korban yang paspornya disita. Orang-orang yang dipaksa bekerja hingga delapan belas jam sehari. Mereka yang mencoba melarikan diri dipukuli. Sebagian bahkan menghilang tanpa jejak. Rinto menutup laptopnya perlahan. Dadanya terasa sesak.
"Kalau semua ini benar...
...bagaimana mungkin aku membiarkan Cahya pergi sendirian?"
Suara itu hanya terdengar di dalam kepalanya sendiri. Telepon genggamnya tiba-tiba bergetar. Nama yang muncul di layar membuatnya sedikit lega.
Bayu. Teman satu angkatannya di Akademi Kepolisian yang kini bertugas di Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Jawa Timur.
"Halo, Yu."
"Masih belum tidur?"
Suara kawan seangkatannya itu, seperti bisa merasakan suara berat dalam nada bicara Rinto
"Belum."