BAB 11 – Hari-Hari Panjang Penantian
Sudah tiga minggu berlalu sejak Cahya mengurus paspor. Setiap pagi kehidupannya berjalan seperti biasa. Ia membuka toko bunga pukul delapan. Merangkai bunga. Menyapu lantai. Melayani pelanggan. Sesekali tertawa bersama Lidya dan Ratna. Tetapi sebenarnya tidak ada lagi yang benar-benar biasa. Setiap bunyi telepon membuat jantungnya berdegup. Setiap nomor asing membuat tangannya gemetar. Setiap berita dari Kamboja membuat pekerjaannya terhenti.
Di sela-sela merangkai bunga, ia diam-diam membuka grup WA Backpacker Indonesia. Puluhan pesan baru muncul setiap hari. Ada yang membagikan foto Angkor Wat. Ada yang bertanya hostel murah di Phnom Penh. Ada pula yang menceritakan perjalanan darat dari Kuala Lumpur menuju Poipet. Semua ia simpan. Semua ia baca. Seolah-olah sedang menyusun peta menuju ayahnya.
Saat sedang serius membaca pesan-pesan digrup itu, bunyi pintu toko berderit. Seorang ayah masuk dan menanyakan paket bunga ulang tahun anaknya yang berumur tujuh tahun. Ayah itu berkata sambil tersenyum.
"Tolong dibikin cantik ya, Mbak." Cahya tersenyum mengangguk tanda siap. Bapak yang berdiri didepannya, terus memperhatikan Cahya merangkai bunga pesanannya yang sudah hampir selesai.
"Anak saya paling senang bunga matahari."
Cahya tersenyum. Tetapi ketika membungkus bunga. Tangannya berhenti. Ia membayangkan...Sudah berapa lama ayahnya tidak bisa memberi hadiah kepada anak-anaknya. Ia buru-buru membalikkan badan supaya pelanggan tidak melihat matanya mulai berkaca-kaca. Saat merangkai bunga pesanan Bapak yang ia belakangi, ia membaca pesan yang bapak itu tulis untuk anak perempuannya, Natasya.
“ Untuk Natasya - Cinta terbaik Ayah, Selamat ulang tahun anakku tersayang”
Cahya tertegun lama menatap tulisan itu. Ingatannya kembali ke masa-masa kecilnya, saat perayaan ulang tahunnya yang ke-8. Ia menerima ucapan yang mirip dari ayahnya, dihari ulang tahunnya. “Cahya, matahariku, cahaya mataku, Cinta terbaik ayah”. Cahya tidak akan pernah lupa kalimat itu. Kini ayahnya tidak lagi bersamanya, dan ulang tahunnya sebentar lagi tiba. Rasa rindu pada ayahnya semakin besar disaat ulang tahunnya makin dekat.
Menyadari bapak dibelakangnya sudah menunggu agak lama, Cahya berusaha mengusap sebutir airmatanya yang terlanjur jatuh meski ia sudah berusaha keras menahannya. Setelah perasaannya bisa ia kendalikan, Cahya lalu berbalik dan menyerahkan buklet bunga yang sudah selesai dirangkainya, beserta kartu ucapan yang persis ia pasang sesuai permintaan ayah Natasya, melingkar ditengah batang bunga matahari.
“Salam untuk Natasya ya pak, selamat ulang tahun buat anaknya”