Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #12

Bab 12 - Air Mata Perpisahan

Bab 12 – Air Mata Perpisahan

Cahya mengemasi ranselnya. Perjalanannya akan dimulai besok. Setelah hampir sebulan ia menunggu kepastian dari pihak kedutaan tentang keberadaan ayahnya, dan tidak membuahkan hasil, akhirnya Ia memutuskan untuk meneruskan rencananya. Berangkat ke Kamboja. Berapa hari terakhir, setelah semua kelengkapan dokumen ia pastikan tidak ada masalah, paspor sudah keluar sejak dua minggu lalu., uang tabungan dari celengan ibunya juga sudag ia simpan di rekeningnya, ditambah gaji terakhirnya di toko bunga, dan bantuan kecil dari beberapa keluarga dekatnya, total terkumpul direkeningnya 8,5 juta. Cahya menganggap itu cukup karena tiket sekali jalan sudah dia miliki dan beli secara online. Ia memilih untuk lewat udara hanya perjalanan Surabaya Kuala Lumpur. Sisanya ia akan tempuh lewat jalur darat. Beberapa informasi dari grup Backpacker di wa menyarankan itu, jika Cahya ingin mengirit ongkos di perjalanan. Lagi pula, Cahya merasa, ini kesempatannya untuk menelususri perjalanan ayahnya.

Dua minggu lalu, Rinto sahabatnya memberi kabar bahwa hasil penelusuran Kepolisian Daerah Jawa Timur ke berbagai maskapai penerbangan tujuan Surabaya-Kamboja di hari yang diperkirakan Karmin, ayah Cahya, meninggalkan Surabaya, tidak terdeteksi oleh pihak kepolisian dan Imigrasi. Kesimpulan awal kepolisian, kemungkinan ayah Cahya mengambil jalur laut dari Surabaya ke Balikpapan, lalu melanjutkan perjalanan darat ke Sarawak. Lalu dari Sarawak, menggunakan jalur laut atau udara ke Kuala Lumpur.

Cahya sebenarnya diminta menunggu oleh Rinto beberapa minggu lagi, sebelum hasil investigasi bersama antara kepolisin Indonesia dan Kepolisan Malaysia. Tetapi bagi Cahya itu terlalu lama. Dan tentu saja, bukan hanya ayahnya yang akan dicari oleh pihak kepolisian dua negara, tapi juga ratusan pekerja lainnnya di seluruh Indonesia, yang masih tertahan di Kamboja. Berita terbaru yang di baca oleh Cahya melalui media-media nasional, penyerbuan militer Kamboja ke markas pusat judi online di Kamboja bulan lalu, hanyalah salah satu tempat. Di Kamboja, ada puluhan tempat yang sama, perusahaan scammer online dengan berbagai modus penipuan.

Malam itu, mereka berkumpul satu keluarga utuh, minus ayah. Ada tiga adik laki-lakinya duduk melingkari meja makan sederhana. Dua adiknya sudah SMA, satu kelas tiga SMA, Ahmadi,  dan satunya lagi masih kelas satu SMA, Fadil. Yang paling bungsu, sudah kelas 3 SMP. Jarak usia adiknya berdekatan, hanya selisish 1 dan satu setengah tahun.

Adik bungsunya, Yusuf, tak bisa menyembunyikan kesedihan. Meskipun ia belum begitu paham resiko yang akan di jalani kakaknya, tapi Ia merasa kepergian kakaknya akan terasa sangat berat. Ia sangat dekat dengan kakaknya. Hampir setiap hari, Cahya membelikannya es krim kesukaanya. Dan masa-masa ia di jemput kelas sore, adalah masa yang paling Yusuf nantikan setiap hari. Cahya juga masih sering mendongengkan cerita ke adik bungsunya itu setiap menjelang tidur.

Yusuf tiba-tiba memeluk ransel Cahya.

"Kak..."

"Kalau Kakak pergi..."

"...siapa yang bangunin aku sekolah?"

Cahya berlutut. Mengusap rambut adiknya.

"Kamu kan sudah besar."

Yusuf menggeleng keras.

Lihat selengkapnya