BAB 13 – Langit yang Sama
Pagi itu, langit Surabaya berwarna kelabu. Sisa hujan semalam masih meninggalkan embun di kaca mobil yang melintas di jalan menuju Bandara Internasional Juanda. Cahya duduk di kursi belakang mobil daring yang disewanya. Ransel besar berwarna hitam berada di sampingnya, sementara sebuah map bening berisi paspor, tiket elektronik, dan beberapa lembar fotokopi dokumen ia peluk sejak keluar dari rumah.
Sejak berpamitan dengan ibunya satu jam yang lalu, hampir tidak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya. Ia hanya menatap jalan. Rumah-rumah yang perlahan tertinggal. Warung kopi yang mulai dipenuhi pelanggan. Lampu lalu lintas yang berganti hijau lalu merah. Semuanya tampak biasa. Tetapi bagi Cahya, pagi itu terasa seperti perpisahan dengan kehidupan yang selama ini dikenalnya.
Mobil berhenti di depan terminal keberangkatan. Sopir membantu menurunkan ranselnya. "Semoga perjalanannya lancar, Mbak." Cahya mengangguk sambil tersenyum kecil. "Terima kasih, Pak." Ia menarik napas panjang sebelum melangkah masuk. Pintu otomatis bandara terbuka perlahan. Udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyambutnya. Orang-orang berjalan tergesa-gesa. Suara roda koper bergesekan dengan lantai granit. Pengumuman keberangkatan terdengar bergantian dalam bahasa Indonesia dan Inggris. Untuk sesaat Cahya hanya berdiri. Ia baru sadar. Inilah pertama kalinya ia bepergian ke luar negeri seorang diri. Setelah proses pemeriksaan dokumen selesai, Cahya menuju ruang tunggu keberangkatan.
Masih ada hampir empat puluh menit sebelum pesawat AirAsia tujuan Kuala Lumpur melakukan proses naik pesawat. Ia memilih duduk di dekat jendela besar yang menghadap landasan. Di luar, beberapa pesawat tampak perlahan bergerak menuju landasan pacu. Matanya sesekali melihat layar telepon. Tidak ada pesan baru. Rinto belum juga menghubunginya. Semalam lelaki itu hanya sempat berkata, "Besok aku usahakan datang." Lalu teleponnya mati.
Sejak pagi nomor Rinto sulit dihubungi. Cahya mencoba menghubungi lagi. Tidak aktif. Entah kenapa, ada sedikit rasa kecewa yang ia sembunyikan dari dirinya sendiri. "Barangkali dia sedang dinas," gumamnya pelan. Ia mencoba menghibur dirinya. Suara pengumuman kembali terdengar. "Penumpang AirAsia tujuan Kuala Lumpur dipersilakan bersiap menuju pintu keberangkatan dalam lima belas menit."
Saat itulah telepon genggamnya bergetar. Nama yang muncul membuat jantungnya berdegup. Rinto.
"Halo?"
"Cahya..."
Suara Rinto terdengar sedikit terengah.
"Kamu lihat ke arah pintu pemeriksaan utama."
Cahya spontan berdiri. Ia menoleh ke arah dinding kaca besar yang membatasi ruang tunggu dengan area keberangkatan. Di balik kaca itu...Rinto berdiri. Masih mengenakan seragam polisi. Topinya berada di tangan kiri. Wajahnya tampak lelah. Mungkin ia baru selesai bertugas malam. Jarak mereka hanya dipisahkan kaca tebal dan puluhan meter.
Mereka saling memandang. Tidak ada kata-kata. Tidak ada senyum berlebihan. Hanya tatapan dua orang yang sama-sama tahu bahwa perjalanan ini mungkin akan mengubah segalanya. Rinto mengangkat tangan kanannya perlahan. Cahya membalas lambaian kecil itu. Lalu sambungan telepon terputus.
Beberapa detik kemudian seorang petugas bandara menghampiri Cahya.
"Maaf, Mbak."
"Ada titipan."