Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #14

Bab 14 - Kota yang Asing dan Awal Petualangan Mencari Ayah

Bab 14 – Kota yang Asing dan Awal Petualangan Mencari Ayah

Pesawat AirAsia akhirnya menyentuh landasan Bandara Internasional Kuala Lumpur. Cahya yang sejak lepas landas lebih banyak memejamkan mata, perlahan membuka jendela penutup di samping kursinya. Hamparan landasan yang luas membentang. Di kejauhan, pesawat-pesawat dari berbagai negara berbaris menunggu giliran lepas landas. Ia menarik napas panjang.

"Aku benar-benar sudah meninggalkan Indonesia."

Kalimat itu hanya bergema di dalam hatinya.

Begitu roda pesawat berhenti sempurna, tepuk tangan kecil terdengar dari beberapa penumpang. Cahya tersenyum. Ia pernah membaca di blog seorang backpacker bahwa sebagian penumpang Asia Tenggara masih memiliki kebiasaan bertepuk tangan ketika pesawat mendarat dengan selamat.

Cahya berdiri, mengambil ranselnya dari kabin atas. Tangannya tanpa sadar menyentuh bantal leher pemberian Rinto yang menggantung di samping tas. Senyum kecil kembali muncul.

Cahya kemudian mengikuti arus penumpang menuju pemeriksaan imigrasi. Semuanya terasa baru. Papan petunjuk berbahasa Melayu dan Inggris. Petugas bandara dari berbagai ras. Perempuan berjilbab berjalan berdampingan dengan turis-turis Barat. Bahasa Mandarin, Tamil, Inggris, Melayu, bercampur menjadi suara yang asing namun menarik.

Alih-alih gugup, Cahya justru menikmati semuanya. Ia memang baru pertama kali ke luar negeri. Tetapi sejak kuliah ia mempunyai kebiasaan aneh. Setiap kali merasa takut...Ia akan mengubah rasa takut itu menjadi rasa ingin tahu. Sebagai mahasiswa psikologi, ia pernah membaca bahwa rasa takut dan rasa penasaran lahir dari bagian otak yang saling berdekatan. Tinggal memilih, emosi mana yang ingin dipelihara. Hari itu...Ia memilih menjadi penasaran.

Proses imigrasi berlangsung cepat. Didepan petugas imigrasi, Cahya bersikap santai. Petugas hanya menanyakan tujuan kedatangannya.

"Holiday?"

Cahya tersenyum. "A little backpacking... and visiting friends." Petugas mengangguk. Stempel paspor berbunyi pelan. Tok.

"Welcome to Malaysia."

"Thank you." Balas Cahya dengan wajah senang

Kalimat sederhana itu membuat Cahya tersenyum lebih lebar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya...Paspor miliknya memiliki cap negara lain. Ia hampir ingin memotretnya. Namun mengurungkan niat. Masih banyak perjalanan yang harus ia lalui.

Matanya bergerak ke segala arah. Papan penunjuk bertuliskan Train, Bus, Taxi, dan Arrival Hall berdiri berdampingan. Ia tersenyum kecil.

"Tidak sesulit yang kubayangkan."

Cahya keluar dari area kedatangan sambil menggendong ranselnya. Ia tidak terburu-buru mengikuti kerumunan. Sebagian penumpang langsung menuju pintu keluar bandara melewati jalur yang sudah terpampang dijalur yang dilalui penumpang internasional. Tapi Cahya memilih untuk berhenti sejenak menikmati suasana bandara yang sangat luas dan megah itu. Ia berdiri beberapa saat di tengah terminal kedatangan Kuala Lumpur International Airport.

Ia membuka telepon genggamnya. Google Maps yang selama ini hanya ia lihat di layar kamar kos, kini benar-benar menjadi petunjuk hidupnya. Beberapa menit kemudian matanya menangkap sebuah kios kecil yang menjual peta wisata Malaysia dan Asia Tenggara. Ia menghampiri. Di rak paling depan tergantung sebuah peta berukuran besar. Malaysia – Thailand – Cambodia Overland Route. Mata Cahya langsung berbinar.

"Excuse me..."

"How much is this map?"

Penjaga kios, seorang lelaki India Malaysia berusia sekitar lima puluh tahun, tersenyum ramah.

"Twenty ringgit."

Lihat selengkapnya