Ayah, Pulanglah, Anakmu Rindu!

Saparuddin Santa
Chapter #15

BAB 15 - Kota Persimpangan - Rute Awal Mafia TPPO

BAB 15 – Kota Persimpangan – Rute Awal Mafia TPPO

Hat Yai - Songkhla -Thailand

Kota Hat Yai bukan sekadar kota persinggahan yang populer di kalangan wisatawan Indonesia. Selama bertahun-tahun, kota terbesar di Provinsi Songkhla, Thailand Selatan itu menjadi tempat bertemunya ribuan orang dari berbagai negara Asia Tenggara. Jalur darat menuju Malaysia, pelabuhan-pelabuhan kecil di pesisir Teluk Thailand, hingga jalan raya yang menghubungkan Bangkok, membuat Hat Yai menjadi simpul perjalanan yang sangat sibuk.

Bagi wisatawan, Hat Yai dikenal sebagai kota yang ramah. Penduduknya banyak yang mampu berbicara dalam bahasa Melayu selain bahasa Thai. Restoran halal berjejer di berbagai sudut kota. Tulisan berbahasa Melayu mudah ditemukan di kawasan perdagangan. Tidak sedikit warga Indonesia yang merasa seperti masih berada di negeri sendiri ketika berjalan di pasar-pasar tradisional Hat Yai.

Tetapi seperti banyak kota perbatasan lainnya...Hat Yai mempunyai dua wajah. Wajah pertama adalah wajah yang dilihat para pelancong. Hotel-hotel murah. Pasar malam. Kedai teh tarik. Pusat perbelanjaan, dan keramaian café dan bar yang berlangsung hingga larut malam. Sedangkan wajah yang kedua...adalah wajah yang hanya dikenal oleh orang-orang tertentu.

Di balik ramainya terminal bus internasional, di balik deretan agen perjalanan dan perusahaan ekspedisi, mengalir jalur-jalur yang tidak pernah tercatat dalam brosur wisata. Jalur itu menghubungkan manusia. Bukan sebagai penumpang. Melainkan sebagai komoditas. Sebagian orang mengenalnya sebagai jalur pekerja ilegal. Sebagian lagi menyebutnya jalur penyelundupan manusia. Namun bagi orang-orang yang mengendalikan bisnis itu, semuanya hanyalah angka. Semakin banyak orang yang berhasil diseberangkan, semakin besar keuntungan yang mereka peroleh. Dan Hat Yai... Adalah salah satu pintu masuknya.

Sementara itu...

Sebuah bus antarkota berhenti di Terminal Hat Yai. Seorang lelaki bertubuh sedang turun sambil membawa tas ransel hitam yang terlihat biasa saja. Topi yang dikenakannya ditarik lebih rendah menutupi sebagian wajah. Rudi Sitepu.

Ia tidak pernah tampak tergesa-gesa. Justru ketenangannya membuat orang sulit mencurigainya. Sesampainya di luar terminal, ia tidak langsung mencari hotel. Ia berdiri beberapa menit. Mengamati orang-orang yang berlalu-lalang. Lelaki itu kemudian mengeluarkan telepon genggam kecil dari saku celananya. Bukan telepon yang ia gunakan sejak di Indonesia. Melainkan telepon lain. Nomor lain. Kartu SIM lain.

Sebuah pesan pendek sudah menunggunya. Barang dari Surabaya dipastikan sudah bergerak. Rudi tersenyum tipis. Jarang sekali ia membaca nama seseorang di dalam pesan. Yang ada hanya kode-kode. Karena dalam dunia yang ia jalani...Bagi kelompok ini, memberi penamaan, adalah kelemahan.

Beberapa menit kemudian ia berjalan menuju Butterfly Café. Sebuah kedai kopi tua di sudut jalan Niphat Uthit 3. Dari luar, tempat itu tak berbeda dengan ratusan kedai lain di Hat Yai. Tetapi bagi orang-orang tertentu, Butterfly Café adalah titik temu yang tidak pernah tercatat dalam buku perjalanan wisata. Di sudut ruangan sudah duduk dua lelaki. Salah satunya berwajah Thailand. Yang satunya lagi, berwajah China, keduanya fasih berbahasa Inggris dan Indonesia. Dua bahasa yang mesti dikuasai semua pekerja dibidang ini.

Tanpa banyak basa-basi, Rudi mendorong sebuah amplop cokelat ke arah lelaki China.

Sebuah "Dokumen."

Rudi membuka sekilas sebelum menyerahkannya. Beberapa lembar paspor. Foto-foto yang disertai daftar nama. Ia menutup kembali amplop itu.

"Berapa orang lagi?" Tanya lelaki Thailand bertampang mirip wajah orang Sunda kalau di Indonesia. Wajahnya halus, dan tidak sedikitpun menunjukkan pekerjaan yang dijalaninya.

"Tujuh belas." Kata Rudi

"Indonesia?"

"Tiga belas."

"Malaysia dua."

Lihat selengkapnya