BAB 17 – Pesan dari Orang Asing
Hat Yai - Thailand
Sore mulai turun di Hat Yai. Dari jendela lantai dua Silla House, Cahya melihat jalanan Niphat Uthit 3 Road yang masih ramai. Silla House berada di persimpangan jalan Niphatt Uthit 1 dan 2. Berada tidak jauh dari stasiun, hanya sekitar satu setengah kilometer. Tarifnya murah, hanya sekitar 55 Bath per malam (Kira-kira 220.000 rupiah). Ini yang termurah di kawasan pusat kota Hat Yai. Tarif yang murah dan posisi yang strategis membuat banyak Backpacker memilih tempaat ini. Pemandangan di luar membuat mata Cahya merasa ada dikotanya, di Surabaya. Bedanya, disini semua tertata rapi dan orang-orang disiplin menggunakan jalan.
Mata Cahya memperhatikan pemandangan Hat Yai dari jendela kamarnya yang menghadap jalan raya Niphat Uthit. Becak motor, sepeda motor, wisatawan Malaysia yang berjalan sambil membawa kantong belanja, aroma tom yum dari warung di seberang jalan, semuanya membuat kota itu terasa hidup. Kalau saja tujuannya bukan mencari ayah...Mungkin ia akan menikmati kota ini sebagai seorang pelancong.
Cahya mengambil telepon genggam. Ia sudah membeli nomor lokal agar bisa membeli data internet. Pun kartu SIM Indonesianya masih aktif. Grup Backpacker Indonesia kembali ramai.
"...Ada yang tahu hostel murah dekat perbatasan?"
"...Bus terakhir ke Padang Besar jam berapa?"
"...Ada yang pernah naik minivan ke Phnom Penh?"
Pertanyaan-pertanyaan dari anggota memenuhi pesan di grup yang dihuni hampir seribu orang. Rata-rata mereka sudah pernah ke luar negeri. Kecuali Cahya yang baru kali ini meninggalkan Indonesia.
Cahya menarik napas. Ia lalu mengetik. “Teman-teman, saya ingin bertanya. Apakah ada yang tahu penginapan yang sering dipakai pekerja Indonesia sebelum berangkat ke Kamboja?” Cahya sedang mencoba keberuntungan, barangkali dari pertanyaannya, ada petunjuk tentang ayahnya. Pesan itu terkirim. Satu menit. Dua menit. Lima menit. Tidak ada jawaban. Tidak satupun anggota grup yang merespon pertanyaan Cahya. Justru percakapan di grup berganti membahas tempat makan halal.
Cahya mulai mengira pertanyaannya tidak akan dijawab. Sampai beberapa saat kemudian...Teleponnya bergetar. Bukan dari grup. Tapi masuk ke pesan pribadi WA-nya.
“Halo…Saya Yanto. Orang Indonesia juga. Saya sekarang di Hat Yai”
Cahya hanya membaca. Tidak membalas. Pesan Rinto kembali teringat. Jangan mudah percaya siapa pun. Ia meletakkan telepon. Lalu memilih mandi. Cahya berusaha mengistirahatkan pikirannya. Setelah perjalanan lebih tujuh jam dari Kuala Lumpur ke tempatnya menginap sekarang-Hat Yai, ia merasa tubuhnya butuh mandi dan istirahat.
Sekitar lima belas menit kemudian...Pesan lain masuk, dari nomor yang sama. “Saya juga anggota grup Backpacker” Cahya Tetap tidak membalas. Cahya mendiamkannya. Sampai beberapa menit setelahnya, pesan berikutnya mengubah segalanya.
“Saya sedang mencari kakak saya”